Lukisan Indah Kehidupan

Sebuah tulisan saya ambil dari tulisan i Gede Prama adalah penulis buku Simfoni di Dalam Diri: Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan sekaligus fasilitator meditasi yang tinggal di Bali. tentang lukisan kehidupan

Kehidupan manusia modern serupa seorang pria miskin di Afrika yang tidur berbantalkan batu, setiap malam berdoa bisa memiliki berlian. Karena doanya tidak terkabul, dijual tanahnya sebagai ongkos bepergian mencari berlian yang dicita-citakan. Gede Prama

Siapa yang tidak mengenal suara indah dan karismatik Whitney Houston. Suara itu menghiasi telinga dunia selama puluhan tahun, menjadi referensi bagi banyak penyanyi, menjadi hiburan banyak telinga, menyirami banyak sekali jiwa yang dahaga.

Namun, Februari 2012, dunia menarik napas sesak sebentar setelah mengetahui Whitney Houston meninggal mendadak karena narkoba.

Seperti menambahkan tumpukan kesedihan, terutama setelah Michael Jackson dan Bob Marley dikabarkan wafat dengan cara serupa, demikian rumitkah kehidupan orang kaya?

Sekaligus menjadi masukan bagi banyak manusia, setelah ditumpuk kekayaan materi ternyata tidak menyelesaikan semua masalah, juga menghadirkan rasa sakit yang tidak tertangani. Ibarat gunung es, kehidupan selebritas dunia seperti puncak gunung es.

Bila puncaknya sakit, bawahnya kemungkinan juga sakit. Padahal, sebagaimana ditulis sebuah buku suci, manusia yang bunuh diri langsung terlahir di alam setan.

Ini memberikan inspirasi, manusia memerlukan kekayaan lain sebagai pengimbang. Perhatikan langkah manusia dalam keseharian, semuanya melangkah buru-buru tanpa punya waktu melihat lingkungan sekitar.

Setelah belajar dari kehidupan seperti Whitney Houston, manusia memerlukan slow down. Bukan mogok, bukan juga santai tidak peduli kualitas, melainkan bernapas lebih pelan daripada biasanya, kemudian menoleh ke dalam pada kekayaan spiritual yang lama terpendam.

Kehidupan manusia modern serupa seorang pria miskin di Afrika yang tidur berbantalkan batu, setiap malam berdoa bisa memiliki berlian. Karena doanya tidak terkabul, dijual tanahnya sebagai ongkos bepergian mencari berlian yang dicita-citakan.

Setelah merantau lama, ia kelelahan tidak menemukan yang dicari, sehingga baliklah ia ke desa tempat lahirnya. Sesampai di desa, ternyata tumpukan batu di bekas rumahnya berisi banyak berlian.

Inilah nasib manusia kebanyakan. Mencari ke tempat yang jauh, kelelahan, kemudian balik dan terkejut. Ada yang mencarinya dalam jabatan, kekayaan, kepopuleran dengan demikian kerasnya.

Tubuh kemudian kelelahan. Setelah lelah terpaksa menoleh ke dalam, ternyata ada berlian spiritual di dalam. Bagi yang sudah mempraktikkan tahu, berliannya ditemukan dengan pengertian, dari pengertian muncul kesediaan menerima. Kombinasi antara pengertian dan penerimaan membuahkan cinta, kebajikan, dan kasih sayang.

Bila kebanyakan orang minta dimengerti, di jalan ini terbalik, dimulai dengan belajar mengerti. Semua manusia sedang bertumbuh.

Perhatikan pesan seorang tetua: “Sebagaimana tetua memberi Anda ruang untuk bertumbuh, sekarang giliran Anda memberi ruang ke orang lain untuk bertumbuh”.

Dan, namanya bertumbuh, tentu banyak salahnya, banyak kelirunya. Memarahi berlebihan orang yang sedang bertumbuh menimbulkan racun di kedua sisi. Yang marah keracunan, yang dibentak juga keracunan. Dibandingkan dengan menimbulkan racun di kedua sisi, coba ambil langkah pengertian mendalam bahwa semua mau bahagia.

Seperti tangan kiri yang tidak sengaja terpukul oleh palu yang dipegang tangan kanan, tangan kiri bukan mengambil alih palu kemudian memukul balik tangan kanan.

Namun, dengan alamiah tangan kanan meletakkan palu, kemudian merawat tangan kiri sebaik-baiknya. Pada saat yang sama tidak ada dendam yang tersisa di tangan kiri. Inilah sifat alami manusia: pengertian, pemaafan, perawatan.

Sekaligus inilah lukisan indah kehidupan. Bahannya sederhana: understanding, acceptance, loving kindness, compassion.

Bagi yang menempuh jalan psikoterapi sebagai panggilan spiritual tahu, inilah bahan-bahan yang kita bagikan ke sahabat yang membutuhkan pertolongan. Mendengar untuk bisa mengerti beban penderitaan orang. Terima sejelek apa pun kisah orang lain dengan penuh kasih sayang. Kemudian, memberikan obat bernama cinta, kebajikan, dan kasih sayang.

Di kedalaman penyelaman seperti ini, kadang Guru di dalam berpesan: “tatkala manusia menyembuhkan orang lain, sesungguhnya ia sedang menyembuhkan dirinya sendiri”.

Inilah lukisan indah kehidupan yang dinikmati tidak saja pemilik lukisan, juga dinikmati banyak sekali manusia lain. (*)

infobanknews.com

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s