Surat Dari Seorang Anak Pasuruan…

Surat terbuka untuk anggota pasukan marinir, TNI Angkatan Laut, di mana saja berada.

Kepada bapak-bapak anggota pasukan marinir di mana saja,

Saya Choirul Anwar. Umur baru 3 tahun. Saya anak Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur. Kampung saya di dekat tempat bapak-bapak biasa latihan perang-perangan. Sekarang saya sedang terbaring di ranjang rumah sakit karena kata dokter saya tertembak. Dada saya sakit sekali. Kata dokter, ada peluru di dalamnya. Dokter belum bisa mengeluarkan peluru itu karena kondisi saya masih lemah.

Saya tak tahu bagaimana saya bisa terkena peluru itu. Saya hanya ingat, saya sedang digendong ibu ketika di kampung saya terdengar suara ribut-ribut dan dar-der-dor. Ibu lalu lari sambil menggendong saya. Tiba-tiba ibu jatuh dan dada saya perih. Setelah itu, saya tak sadar.

Ketika saya siuman, ibu tak ada lagi. Saya hanya melihat bapak dan kakek yang setia menunggu saya di sebelah tempat tidur rumah sakit. Setiap hari mereka menjaga saya. Mereka sering menangis. Tapi, saya tak tahu apa sebabnya. Saya belum bisa bicara. Hidung saya ada selangnya. Entah selang apa ini. Kata dokter, saya harus pakai selang ini biar lekas sembuh.

Bapak-bapak anggota pasukan marinir di mana saja,

Saya tak tahu kapan saya sembuh dan segera bisa bermain lagi dengan kawan-kawan di kampung. Sebetulnya saya sudah kangen sekali pada mereka. Saya ingat, biasanya kalau sedang siang begini saya biasa main lari-larian di lapangan sambil menonton bapak-bapak yang memanggul senjata.

Wah, bapak-bapak gagah betul ya. Saya kagum. Kelak, saya juga ingin jadi tentara seperti bapak-bapak sekalian. Saya ingin jadi petugas negara, yang membela negara dari serangan musuh, seperti bapak-bapak.

Tapi, sekarang saya masih sakit. Saya belum bisa melihat bapak-bapak latihan lagi. Dada saya masih sakit. Perih. Saya hanya bisa menangis menahan pedih. Bapak-bapak tahu kan rasanya sakit itu? Bapak-bapak mungkin juga punya anak-anak yang sebaya dengan saya. Bagaimana rasanya jika bapak melihat anak-anak bapak sakit karena tertembak? Pasti sedih ya?

Saya tak tahu kenapa saya harus tertembak. Saya masih kecil. Saya tak tahu apa-apa. Saya tak mengerti kenapa bapak-bapak menembak saya. Mungkin bapak-bapak sedang marah ya? Mengapa bapak-bapak marah? Apakah bapak dan ibu saya jahat sehingga harus dimarahi? Apakah tetangga-tetangga di kampung saya mengganggu bapak-bapak sekalian?

Bapak-bapak anggota pasukan marinir di mana saja,

Saya mohon maaf seandainya bapak, ibu, kakek, juga tetangga-tetangga kampung saya sampai membuat bapak-bapak marah. Mereka sebenarnya baik kok. Mereka semua sayang saya. Hanya mungkin mereka sedang bingung.

Kemiskinan, ketakutan akan kehilangan, telah membuat mereka kehilangan akal dan kesabaran. Pada saat yang sama, bapak-bapak yang seharusnya memberi kami rasa nyaman dan aman, justru mengancam kenyamanan dan keamanan mereka. Karena itu, kami protes.

Tapi, mestinya bapak-bapak tak harus menghadapi protes kami dengan bedil. Kami jelas kalah melawan senapan yang bapak-bapak punya itu. Kami cuma rakyat kecil yang ingin hidup tenang dan berusaha mencari sedikit rejeki untuk menyambung hidup. Kami bukan sedang ingin melawan apalagi memusuhi bapak-bapak petugas keamanan yang gajinya berasal dari pajak yang kami bayar juga.

Kami teman, bukan musuh bapak-bapak. Jadi mengapa bapak-bapak menembak kami? Menembak saya? Apakah bapak-bapak tak sayang pada kami lagi? Apakah bapak tak cinta saya? Saya ingin tahu, apakah bapak-bapak terbayang pada anak-anak, istri, juga saudara-saudara bapak di rumah ketika bapak-bapak mengarahkan senapan dan menyemburkan pelurunya ke arah kami? Tak terbayangkankah wajah anak bapak ketika dada saya tertembak?

Bapak-bapak anggota pasukan marinir di mana saja,

Nasi memang telah jadi bubur. Sesal kemudian tiada guna. Saya hanya ingin agar kejadian yang menimpa saya tak terulang lagi. Jangan sampai bapak-bapak sekalian terlalu gampang menembak. Apalagi menembak ke arah rakyat yang duitnya bapak-bapak pakai untuk membeli senjata itu.

Tentara dan rakyat bersaudara. Akanlah lebih baik jika kita bisa hidup berdampingan dan bukan saling gontok-gontokan. Kekerasan hanya akan menimbulkan kebencian dan perpecahan.

Semoga melalui surat ini hati bapak-bapak sekalian terketuk dan terbuka pintu nuraninya. Tak lupa saya mohon bapak-bapak mendoakan supaya saya segera sembuh ya. Semoga cukup saya yang jadi korban, bukan yang lain.

Salam,
Choirul Anwar

Qusuth Kutip dari Surat Seorang Anak YanG proyektil pelurunya masih bersarang di dadanya…pasca tragedi Pasuruan…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s