Miliarder muda indonesia

Di negeri ini, jumlah pengusaha sukses masih sedikit. Lebih sedikit lagi jika mencari pengusaha muda, sukses, dan kaya raya. Tiga orang ini memenuhi kriteria tersebut. Siapa saja mereka?

https://i0.wp.com/www.tabloid-wanita-indonesia.com/956/cermin-956.jpgPengusaha yang satu ini baru berusia 33 tahun. Dia cerdas dan cantik. Orang mengenalnya dengan panggilan: Naomi Susan. Bos di Grup Ovis tersebut punya garapan bisnis yang beragam. Tapi, dia mengaku bingung soal jumlah asetnya. “Saya bingung kalau ditanya soal aset atau kekayaan yang sudah saya miliki. Berputar sih, jadi susah menghitungnya,” ujarnya lantas tertawa.

Rambut panjangnya yang dicat dengan warna keemasan dibiarkan tergerai. Mengenakan blazer krem, penampilan Naomi tampak pas dipadu celana panjang warna senada. Seuntai kalung indah bermata huruf NS (singkatan dari namanya) mengitari lehernya. “Terima kasih,” ujarnya saat dipuji Jawa Pos bahwa penampilannya begitu sempurna.

Lisptik merah dioleskan tipis di bibir mungilnya. Make-up-nya cukup natural. Meski demikian, dia mengaku berdandan dulu di salon sebelum menemui Jawa Pos. “Makanya aku sedikit terlambat,” tuturnya. Naomi lantas memesan seporsi pisang goreng keju dan lumpia sebagai teman berbincang.

Naomi adalah pemegang rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pembeli pertama notebook berlapis emas dan bertakhtakan berlian. Dia membeli komputer jinjing itu seharga Rp 100 juta. Perempuan kelahiran 15 Januari 1975 itu kini menakhodai sejumlah perusahaan yang berkibar di bawah Grup Ovis. Mulai Ovis Utama, Ovis International, Ovis Bursa Bisnis, Ovis Direct Connection, Ovis Pro-interactive. Ovis Sendnsavem, dan OvisSms. Naomi juga tercatat sebagai CEO di Naomi Susan (NS) Group. Di NS Group itu, ada perusahaan-perusahaan macam Natural Salon, Nice Shot Studio, iNSpired Indonesia, Creative Solutions, dan Institute Optopreneur Representative Indonesia. Gurita bisnis membentang dari kafe, kartu diskon, hingga salon.

Dari Ovis International saja, dia pernah menyebut mengantongi keuntungan Rp 2 miliar per bulan. Ada 200 perusahaan lebih yang menjadi kliennya. Tapi, dia selalu mengelak ketika diminta menyebutkan jumlah kekayaannya. “Berapa ya, waduh bingung, Mas,” katanya.

Namun, dia meminta orang tak memandang dirinya dari luar saja. “Jangan dilihat, sekarang Naomi itu hidup enak, mau ngapaian aja bisa. Tapi, lihat prosesnya,” ujarnya dengan mimik serius.

Dia menekankan bahwa hasil memuaskan itu butuh proses. Butuh kerja keras. Kerap kali pil pahit justru harus ditelan jika ingin sukses berbisnis dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. “Jika saya sudah sampai seperti saat ini, tentu saya bersyukur. Tapi, ingat, ini bukan sesuatu yang tiba-tiba,” ujarnya.

Naomi adalah prototipe pekerja keras. Latar belakang keluarganya sederhana. Dia menyaksikan sendiri ketika sang ibu harus berpisah dengan ayahnya. “Kerja keras Mama membimbing kami, menyekolahkan anak-anaknya membuat saya tahu apa itu arti perjuangan,” ceritanya. “Saya terbiasa mandiri. Terbiasa menerima hal-hal yang pahit.”

Dia mengenang, dulu ketika duduk di bangku SMA, sudah membantu tantenya berbisnis jual-beli tanah. “Saat itulah saya bisa mencari uang sendiri,” kenangnya. “Rasanya bangga bisa cari uang sendiri,” lanjut penggemar sea food itu. Sesekali Naomi menata rambut panjangnya.

Sepulang dari AS pada 1995, pascakuliah di University of Portland, Oregon, dia memulai karir sebagai manajer pemasaran di Indomarble Machinery. Di sana hanya setahun. Dia kemudian berlabuh menjadi account executive di sebuah perusahaan periklanan. Namun, itu pun hanya setahun.

Dia kemudian memutuskan mencoba menginvestasikan uangnya ke pasar modal. Itulah kali pertama bagi Naomi berbisnis dengan uang sendiri. Ketika membantu sang tante jual-beli tanah semasa SMA, dia lebih berperan menjadi semacam asisten. “Pertama kali mulai mencoba memutar uang pribadi, saya justru menghadapi hal yang tidak mengenakkan,” cerita penggemar warna merah itu.

Saat itu dia memutuskan menginvestasikan tabungan dengan membeli saham di lantai bursa. Dia mengaku kalah banyak karena saham yang dibeli jeblok. “Saat itu saya mulai berpikir nggak mau lagi bisnis pakai uang sendiri. Kalau nggak berhasil, bisa hancur lebur,” ceritanya. Dia berpikir, lebih enak bekerja menjadi karyawan di perusahaan orang lain. “Penerimaan stabil, dapat gaji setiap bulan. Lebih aman,” ujarnya.

Dia hampir frustrasi. Naomi pun ingin menutup rasa sesalnya dengan melanjutkan kuliah ke Australia. Namun, di antara kebimbangan itu, Naomi yang masih trauma berwiraswasta memutuskan ingin menjadi karyawan swasta. Surat lamaran pun dilayangkan ke PT Ovis Utama, perusahaan yang kelak dia nakhodai dan membawa namanya diperhitungkan sebagai miliarder muda. Ovis, kala itu, adalah perusahaan jaringan diskon. Bidang garapannya masih di jaringan diskon restoran. “Saat itu (lamaran) saya sempat ditolak, tapi kemudian dipanggil lagi,” katanya. Sejak saat itu, Naomi yang masih betah melajang ini berkarir sebagai staf public relation di Ovis.

Tak berselang lama, Naomi ditawari membeli saham di perusahaan tempat dia bekerja. Itu terjadi kala memegang franchise dari Card Connection International. “Aku semula ragu, takut menggunakan uang pribadi dalam berbisnis,” katanya. Namun, akhirnya dia bertekad mengambil tantangan tersebut. Saat itu Ovis memegang lisensi dari Card Connection International. Dia pun melejit lewat anak usaha Ovis, PT Ovis International yang bergerak di bidang kartu diskon card connection.

Naomi yang mengaku tak punya tempat liburan favorit itu kemudian mampu melewati fase krisis 1997-1998 dengan manis. Dia, berbekal keberanian memutuskan hal-hal krusial dalam waktu yang singkat, mampu membawa perusahaannya melebar, merambah ke bidang restoran, kafe, jual beli properti, sampai pesawat carter. Bahkan, kini dia pun merambah ke bisnis waralaba salon.

Saya Ingin Menjual Kegagalan

Naomi Susan termasuk orang yang tidak pelit membagikan ilmu. Dia tak segan-segan membagikan tip berbisnis kepada kolega-koleganya. “Dengan membagi-bagikan ilmu seperti itu, aku tidak takut mendapat pesaing baru. Justru kemampuan kita akan banyak terasah,” terang sosok yang mengidolakan Bob Sadino itu. “Yang penting bagi aku adalah bagaimana memenangkan persahabatan,” lanjutnya.

Naomi lantas bercerita soal struktur karyawan di perusahaannya. Menurut dia, setiap perusahaan harus punya kuda jinak dan kuda liar. “Tipe kuda jinak akan melindungi perusahaan, sementara kuda liar untuk marketing perusahaan,” jelasnya. Kuda liar itulah, kata dia, yang lebih banyak memberikan manfaat bagi bisnisnya.

Meski menakhodai banyak perusahaan, Naomi bukanlah sosok yang dikendalikan waktu. Sebagai bos, dia bebas ke mana saja. “Saya nggak punya waktu liburan yang terencana. Kalau mau liburan, ya langsung libur,” ujarnya. Ke mana tempat favorit berlibur? “Nggak ada. Saya bukan orang yang senang lihat gunung, senang lihat pantai. Pokoknya, pengin ke mana gitu, saya langsung ngajak keluarga berangkat,” terangnya.

Naomi kerap menggunakan cara-cara “mendadak” semacam itu untuk berlibur. “Enak rasanya bareng satu keluarga berlibur, biasanya kita carter pesawat,” tuturnya.

Naomi kini tinggal di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Barat. Sehari-hari, dia beraktivitas dengan BMW seri 3 berwarna merah yang telah dianggapnya sebagai kekasih. “Kalau naik mobil itu, saya seperti berada di rumah sendiri. Pokoknya, mobil itu lebih dari sekadar teman,” katanya.

Naomi kini mengaku benar-benar ingin menikmati hidup dengan lebih rileks, tak ingin terlalu diburu obsesi dan ambisi. Dia ingin menerapkan filosofi air; hadir dan mengalir. “Saya sebenarnya ditawari mengerjakan banyak proyek bisnis, tapi saya nggak mau aji mumpung. Harus ada yang ngerem saat kita digoda banyak obsesi,” ujarnya.

Prinsip Naomi adalah bagaimana mempertahankan kualitas dengan menolak penawaran proyek yang dalam jangka pendek jelas tak bisa dikerjakan. “Artinya, bisa mengukur diri,” imbuhnya. Karena itu, dia kini mengaku hanya fokus pada empat perusahaan. Lini perusahaan lainnya diserahkan kepada karyawan-karyawannya.

Dengan alasan itulah, banyak tawaran bisnis baru yang dikesampingkan. “Aku cuma ingin jadi pribadi yang seimbang,” tuturnya.

Maksudnya, lanjut dia, kehidupan ini harus diartikan secara seimbang, tidak melulu hanya untuk mencari pundi-pundi kekayaan. “Cobaan kan ada dua, saat susah dan senang. Nah, aku sekarang diberi cobaan dengan sesuatu yang enak. Aku harus ingat, aku juga harus mengutamakan orang-orang yang kusayangi,” terangnya.

Kini, Naomi juga sedang getol menularkan “filsafat kegagalan”. Jika orang berpikir be positive, dia malah mengusung tema be negative. Dia menulis buku berjudul Be Negative. “Saya ingin menjual kegagalan. Maksudnya, jangan takut gagal. Justru dari kegagalan itulah, kita harus belajar untuk menuju kesuksesan,” tuturnya.

Selain itu, dia banyak mengurusi pemberian beasiswa untuk lulusan-lulusan SMA di Indonesia. Mereka diberi beasiswa sekolah di Institute Otopreneur, Malaysia. “Aku rutin menjenguk anak-anak di Kuala Lumpur,” terangnya. (eri/kum)

—–

Sandiaga S. Uno, Orang Terkaya ke-63 di Indonesia

Pengusaha Kecelakaan Yang Sukses

https://i1.wp.com/issana.blogs.friendster.com/benvenuti/images/sandi_unoooo_2.jpgDi negeri ini, jumlah pengusaha sukses masih sedikit. Lebih sedikit lagi jika mencari pengusaha masih muda, sukses, dan kaya. Tiga orang ini memenuhi kriteria tersebut. Umur mereka belum 40 tahun, tapi kesuksesannya tak diragukan lagi. Siapa saja mereka?

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pasti kenal dengan sosok Sandiaga S. Uno. Dia baru saja lengser dari jabatan ketua umum pusat organisasi yang beranggota lebih dari 30 ribu pengusaha itu.

Sandi -demikian penyandang gelar MBA dari The George Washington University itu biasa disapa- tercatat sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia. Kekayaannya USD 245 juta.

Sandi menyatakan tak disiapkan untuk menjadi pebisnis oleh orang tuanya. ”Orang tua lebih suka saya bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha,” ujar pria penggemar basket itu.

”Menjadi pengusaha itu pilihan terakhir,” akunya. Karena itulah, dia tak berpikir menjadi pengusaha seperti yang telah dilakoni selama satu dekade ini. ”Saya ini pengusaha kecelakaan,” katanya, lantas tertawa.

Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Grup Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita, mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. “Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif,” katanya, optimistis.

Seorang pebisnis, kata dia, memang harus selalu berpikir jangka panjang. Bahkan, berpikir di luar koridor, berpikir apa yang tidak pernah terlintas di benak orang. “Mikir-nya memang harus jangka panjang.”

Dia mencontohkan, dirinya masuk ke sektor pertambangan awal 2000. Saat itu, sektor tersebut belum se-booming sekarang. ”Jadi, ketika sektor itu sekarang naik, kami sudah punya duluan,” ujarnya.

Dia sesekali menyeruput air putih yang terhidang di sebuah ruang di kantornya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat menemui Jawa Pos. Sesekali pula dia menerima telepon dari sejumlah koleganya. Bahkan, dia sempat menjawab pertanyaan wartawan lewat telepon. Sandi dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Dia tak membeda-bedakan orang dalam bergaul. ”Makin banyak teman kan makin enak,” kata bapak berputri dua itu.

Sandi semula adalah pekerja kantoran. Pascalulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. ”Guru saya adalah Om William (William Soeryadjaja, Red),” tutur pria kelahiran 28 Juni 1969 itu.

Bapak dua anak itu kemudian sedikit terdiam. Pandangannya dilayangkan ke luar ruang, memandangi gedung-gedung menjulang di kawasan Mega Kuningan. ”Saya masih ingat, sering didudukkan sama beliau (William Soeryadjaja, Red). Kami berdiskusi lama, bisa berjam-jam. Jiwa wirausahanya sangat tangguh,” kenangnya. William tanpa pelit membagikan ilmu bisnisnya kepada Sandi. Dia benar-benar mengingatnya karena itulah titik awal dia mengetahui kerasnya dunia bisnis.

Di tanah air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah The George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.

Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. ”Saya memang ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi,” tutur ayah dari Anneesha Atheera dan Amyra Atheefa itu.

Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke tanah air. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua,” katanya.

Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa survive,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.

Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. ”Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya,” katanya. Sandi mampu ”memanfaatkan” momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. ”Itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.”

Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN -lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.

Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.

Terpaksa ke Mal demi Anak

Sandiaga S. Uno adalah citra kesuksesan. Semua orang tahu hal itu. Namun, di balik aktivitasnya yang padat, dia merasa berdosa kepada keluarga. Sebab, waktunya hampir habis tersita untuk aktivitas bisnis dan organisasi. “Saya merasa nggak adil sama keluarga. Saya kerja begini untuk siapa? Rasanya ada yang hilang,” tutur Sandi.

Sandi mengaku, biasanya menjadikan Sabtu-Minggu sebagai hari untuk keluarga. Itu pun sangat terbatas. “Saya paling suka ke Senayan. Pasti Sabtu olahraga bareng keluarga di sana. Pagi lari, agak siang sedikit pukul-pukul bola, golf,” ceritanya.

Kemudian, biasanya mereka sekeluarga jalan-jalan ke mal. “Sebenarnya, saya paling nggak suka ke mal. Tapi, ya sedikit menyenangkan anaklah,” kata Sandi yang mengaku tak tertarik terjun ke dunia politik.

Namun, waktu yang singkat itu kadang terampas. Misalnya, akhir-akhir ini menjelang Kongres Hipmi, dia harus lebih sering berkunjung ke daerah, mengonsolidasikan pengurus-pengurus Hipmi di daerah. “Terus terang, saya barusan dimarahi anak. Mereka protes karena akhir pekan kemarin, saya nggak bisa kumpul bareng keluarga,” ujarnya. “Kata anak saya yang kecil, ‘Pa, keluarga kan lebih penting’,” ucapnya menirukan perkataan sang anak.

Sandi lantas tertawa mengingat polah lucu sang anak itu. “Jujur, saya selalu ingin ada di samping mereka. Saya ingin memberikan yang terbaik,” tambahnya dengan mimik serius.

Karena itu, Sandi kerap berangan-angan bahwa sehari itu bukan 24 jam. “Seandainya sehari itu ditambah empat jam saja, tambahan empat jam tersebut akan saya habiskan bersama keluarga,” tegasnya. (eri/kum)

—–

Hendi Setiono, Bos Kebab Turki Baba Rafi
https://i1.wp.com/images.businessweek.com/ss/06/08/asia_entrepreneurs/image/hendybooth.jpg
Raih Berkah di Jalur Timur Tengah

Namanya Hendi Setiono. Dia masih sangat muda, baru 25 tahun. Tapi, sepak terjang bisnisnya sudah tak diragukan lagi. Kalau Anda menjumpai mobil Nissan X-Trail bernomor polisi K 38 AB di jalanan, itulah mobil Hendi. Pelat nomor seharga Rp 16 juta itulah yang membuat orang mudah mengenali dan menyapanya ketika sedang jalan-jalan dengan mobilnya. “Biasanya tukang parkir menggoda, bayarnya pakai kebab saja,” ujarnya lantas tertawa.

Pelat nomor sengaja dibuat K 38 AB untuk mendekati kata kebab. Berkat kebab inilah, nama Hendi sebagai pengusaha muda sukses, terukir.

Hendi adalah pendiri dan presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia. Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil inovasi bisnisnya. Dia memulai bisnis itu dengan modal hanya Rp 4 juta. Dia enggan meminta bantuan orang tua. “Itu duit hasil pinjam arek-arek (teman-temannya, Red) dan saudara,” kisahnya.

Outlet makanan ala Timur Tengah itu kini berjumlah 325, membentang dari kawasan superramai seperti Jakarta hingga pelosok Ambon. Ratusan outlet itu dipantau dan disupervisi dari dua kantor operasional di kawasan Nginden, Surabaya, dan Pondok Labu, Jakarta. Tahun lalu omzet usahanya mencapai Rp 45 miliar, dan 25 persen di antaranya masuk kantongnya sebagai laba bersih. “Tahun ini omzetnya saya targetkan Rp 60 miliar,” ujarnya.

Apa yang sudah dipunyai Hendi dari keberhasilannya berbisnis? Hendi tampak agak malu menjawab pertanyaan ini. Sekulum senyum kecil dikeluarkannya. “Apa ya? Ehm, ada beberapa, Mas. Alhamdulillah. Masak disebutkan?” katanya masih diiringi senyum.

Dia terbatuk sebentar. Agak ragu, tak lama kemudian, Hendi mulai menjawab. “Aset yang pertama saya beli Yamaha Mio,” ujarnya. Dia membeli motor itu beberapa bulan setelah memulai berbisnis. “Ke mana-mana saya pakai motor itu,” tuturnya.

Setahun pertama, Hendi mengaku “hanya” mendapat penghasilan bersih per bulan Rp 20 juta. “Wah, rasanya sudah seneng banget. Baru umur 20 tahun, penghasilan sudah Rp 20 juta sebulan,” ceritanya.

Setelah membeli Yamaha Mio? “Sekarang kasihan motor itu, sudah nggak muat nampung badan saya semakin melar. Jadi, cari motor yang agak gedean, pakai Harley-Davidson,” ujar nominator Asia’s Best Entrepreneur Under 25 versi Majalah BusinessWeek tersebut.

Selain itu, Hendi punya dua rumah; satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya. Di Surabaya, dia membeli rumah di salah satu kawasan elite, Perumahan Bumi Galaxy Permai. Soal rumah yang satu ini, Hendi punya cerita tersendiri. “Ini rumah idaman saya,” tuturnya.

Dulu, cerita Hendi, semasa masih duduk di bangku kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS, setiap pulang dari kampus, Hendi yang kala itu tinggal di Semolowaru, Surabaya, selalu melewati kawasan perumahan itu. Dia sering berhenti sejenak di perumahan elite itu. Saking seringnya mondar-mandir di perumahan itu sepulang dari kampus, dia sampai kenal dengan sejumlah satpam di sana. “Rumahnya besar-besar, megah-megah. Kelak saya ingin punya rumah seperti ini,” tekadnya ketika itu.

Hendi mengaku terkagum-kagum dengan rumah-rumah di kawasan itu. “Bahkan, hujan saja nggak banjir, beda dengan rumah saya. Halaman depannya itu lebih luas daripada rumah saya di Semolowaru,” kisahnya.

Dari proses itulah Hendi yakin bahwa mimpi yang terus disemai akan bisa mewujud jika diiringi pancangan semangat yang kuat untuk mewujudkannya. “Semuanya berangkat dari impian. Alhamdulillah, saya kemarin berangkat ke Jakarta (wawancara dengan Hendi dilakukan di Jakarta beberapa waktu lalu, Red) sudah dari rumah di Galaxy Bumi Permai,” ceritanya. “Kalau saya tidak berani mulai jualan pakai gerobak, semua mimpi itu hanya tinggal mimpi,” imbuhnya.

Dengan segala apa yang dimiliki kini, Hendi lebih leluasa menyalurkan hobinya berjalan-jalan. Setiap mengisi seminar di berbagai kampus di Indonesia, dia selalu menyempatkan diri mengunjungi berbagai tempat wisata. “Saya lebih suka ke tempat wisata yang alami, lihat pantai, lihat hutan,” ujarnya.

Jalan-jalan ke luar negeri juga sudah menjadi rutinitas yang sangat biasa bagi salah satu 10 Tokoh Pilihan 2006 versi majalah Tempo tersebut. “Dulu jalan-jalan ke luar negeri itu jadi mimpi, sesuatu yang wah, seolah nggak terjangkau. Alhamdulillah, sekarang udah sering,” tuturnya.

Hendi tak melupakan sedekah. Dananya secara tetap didonasikan ke tujuh yayasan yatim-piatu. “Saya menyadari sulitnya kehidupan mereka karena orang tua saya juga bukan orang kaya,” katanya. Dia yakin, jika seseorang tak perhitungan dalam sedekah, rezeki yang diberikan Tuhan akan terus mengalir. “Saya yakin istilah inden rezeki. Orang biasanya membayar zakat 2,5 persen dari keuntungan. Saya membaliknya, sebelum ada untung, harus bayar zakat dulu,” ujarnya. “Pokoknya, kalau omzet turun, kita hajar dengan sedekah,” imbuhnya.

Di luar itu Hendi hampir tidak pernah menghambur-hamburkan uang untuk hobi yang tidak jelas. Misal, clubbing di tempat hiburan malam. “Kalau jalan-jalan ke mal, itu rutin. Tapi, saya dan keluarga tidak konsumtif. Paling-paling hanya lihat tren fashion saat ini untuk diterapkan ke bisnis saya. Misalnya, untuk desain pakaian karyawan dan outlet-outlet,” ujar pria kelahiran 30 Maret 1983 itu. Ketika jalan-jalan itu, Hendi tak khawatir dengan roda bisnisnya. “Owner-nya bisa jalan-jalan, yang mantau manajemen di Surabaya dan Jakarta.”

Hendi lebih suka memakai uangnya untuk melebarkan sayap bisnis. Dia yakin bahwa tak boleh ada kata berpuas diri dalam jiwa seorang pebisnis. Dia kini meretas gerai Roti Maryam Aba-Abi, roti khas Timur Tengah. “Sekarang baru 40 outlet, mayoritas masih di Jatim,” kata Hendi yang, bersama aktris Dian Sastro dan Artika Sari Devi, menjadi duta Wirausaha Muda Mandiri tersebut.

Tak hanya itu, insting bisnis yang kuat membawa pria berbadan subur itu mendirikan Baba Rafi Palace. Sudah dua pondokan megah yang disewakan di Surabaya. “Di Siwalankerto, ada 18 kamar dengan tarif Rp 700 ribu per bulan per kamar. Lalu di Prapanca ada 16 kamar, tarifnya Rp 1,2 juta per bulan,” ujarnya.

Satu lini bisnis makanan juga sedang disiapkan Hendi. “Lagi ngerjakan Piramida Pizza. Kalau biasanya pizza ditaruh loyang, ini mau ditaruh di cone. Jadi, makan pizza bisa sambil jalan-jalan, seperti makan es krim,” terang bapak dengan tiga anak itu.

Dia juga bakal berekspansi ke luar negeri. “Di Malaysia saya baru aja bikin Baba Rafi Malaysia Sdn Berhad. Target awalnya mendirikan 25 outlet kebab,” ujarnya.

Dari UKM(elarat) ke UKM(iliaran)

Hendi memulai bisnis dengan terseok-seok. “Tentu tidak langsung bombastis seperti sekarang. Saya harus jatuh bangun, berdarah-darah.” Dia mengisahkan, saat baru dua minggu berjualan kebab dengan satu gerobak di kawasan Nginden, Surabaya, orang yang diajaknya berjualan sakit.

Dari semula berjualan berdua, dia pun memutuskan menunggui gerobaknya seorang diri. “Ndilalah hari itu hujan deras, jadi sepi,” ceritanya. Untuk menghibur diri, hasil jualan hari itu dibelikan makanan di warung sebelah tempat gerobaknya berdiri. “Di sana ada warung sea food. Saat saya membayar, eh ternyata lebih mahal daripada hasil jualan saya. Jadi, malah rugi,” kisahnya.

Hendi memulai bisnis kala berusia 20 tahun. Dia berhenti kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS saat masuk tahun kedua. “Belum sempat di-DO (drop out, Red), saya OD, out dhewe (keluar sendiri, Red),” ujarnya lantas tertawa.

Ibunya yang pensiunan guru dan bapaknya yang bekerja di sebuah perusahaan di Qatar shock melihat keputusan Hendi. “Orang tua saya ingin saya selesai kuliah, lalu kerja di perusahaan. Bukan malah jualan pakai gerobak,” katanya. Namun, Hendi bergeming. “Setelah berhasil, orang tua malah ingin ikut-ikutan berbisnis,” kata ayahanda Rafi Darmawan, 5, Reva Audrey Sahira, 3, dan Ready Enterprise, 1.

Kini bisnisnya terus membesar. Dari hanya satu karyawan, kini perusahaannya mempekerjakan 700 karyawan. “Yang jadi manajemen inti 200 orang. Semuanya lulusan S1 dan S2,” ceritanya, bangga.

Dia mengibaratkan perjalanan bisnisnya dengan dua istilah UKM yang berbeda. “Dulu kami hanya UKM, usaha kecil melarat. Sekarang masih UKM, tapi usaha kecil miliaran,” tuturnya.

Sekarang ada satu mimpi yang bakal diwujudkan tahun ini. “Saya ingin mengajak semua kelurga jalan jal;an ke eropa.

sumber: http://www.lieagneshendra.blogs.friendster.com/

7 thoughts on “Miliarder muda indonesia

  1. thanks for your info

  2. bagus banget, buat kita semangat utk terus berusaha… cuma lum tau harus mengawali langkah..he..he…

  3. Wah, saya mesti banyak baca pengalaman orang – orang sukses nih, siapa tahu bisa ngikut.

  4. Subhanallah….semoga saya kelak bisa mengikuti jejak kesuksesan mas Hendi. Amin…….

  5. subhanallah…ternyata apapun hasil’y tergantung pada seberapa besar perjuangan dan pengorbanan (proses)..
    saya paling suka membaca tentang proses kesuksesan seseorang agar selalu termotivasi dan juga belajar pada mereka.
    aan salut ma mereka semua yang masih muda udah sukses tapi semoga kesuksesan tidak menjadikan lalai pada yang maha Kuasa dan juga pada sesama…amin

  6. sungguh sangat luar biasa.. kalau boleh tau berapa noh no hp nya,, biar saya bisa berbagi pengalaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s