Sebuah Negeri Bernama Indonesia

Lihatlah kawan..
Lihatlah anggota dewan kita yang terhormat.
Gembor-gembor nasionalisme tinggi.
Banyak janji sana sini.
Pergi keluar negeri.
Bilang, “Tugas negara”.
Pulang bawa tentengan belanja.
“Gedung ini miring” kata mereka.
Minta sekian triliun.
Di desa-desa, gedung sekolah yang hampir ambruk diacuhkan saja.
Pintar bicara mereka.
Sampai-sampai kehabisan kata-kata.
Dan tertidur waktu sidang, kawan…

Lihatlah kawan…
Lihatlah mahasiswanya..
Orasi di sana sini.
“Berantas kemiskinan” kata mereka.
Tapi mereka sendiri miskin ilmu.
“Berantas korupsi” kata mereka keras.
Tapi mereka sendiri korupsi waktu kuliah mereka.
“Mana keadilan” tanya mereka lantang.
Bahkan, waktu ujian pun mereka masih suka mencontek kawan.
“Perang!!”
“Jangan jadi pengecut!!” marah mereka melihat negeri ini diremehkan.
Teriakan nasionalisme atau semangat anarkisme ?!
Tuntutan tak di setujui.
Kemudian hura-hara di sana sini.
Tak pakai otak.
Bangunan negara dirusak.
Padahal siapa bayar pajak ?!
Tertawa ha ha ha.
Berteriak merdeka.
Memerdekakan diri dari kebodohan saja belum bisa.

Lihatlah kawan.
Lihatlah generasi mudanya kawan.
Masih muda.
Penuh semangat.
Tapi tak pake otak.
Sukanya tawuran.
Masalah senggolan, jadi tawuran.
Masalah tempat tongkrongan, jadi tawuran.
Masalah wanita, jadi tawuran.
Bukan pelajaran yang dipikirkan.
Tapi daerah kekuasaan.
Masih muda.
Penuh gejolak jiwa.
Kenal narkoba.
Pertama coba-coba.
Kemudian terbiasa.
“I’m Fly” kata mereka.
Duit habis.
Minta orang tua.
Orang tua menolak.
Rasionalisme dilabrak.
Jadi maling mereka.
Dan kemudian berakhir di penjara.
Masih muda.
Coba kenal dunia.
Hedonisme ala barat jadi gaya.
Dugem.
Pindah-pindah tongkrongan tiap malam.
Seks bebas.
Kenal wanita.
Suka sama suka.
Kamarpun disewa.
Ah oh ah oh..
Teriak mereka.
Nikmat sementara dirasa.
Lupa dosa.

Lihatlah kawan..
Lihat ormas di negeri ini.
“Allahuakbar” teriak mereka keras sambil melempar batu ke ormas lain.
“Allahuakbar” seru mereka lantang.
Selantang suara knalpot motor mereka yang dierung-erungkan.
Melakukan kekerasan.
“Berjuang atas nama Islam” kata mereka.
Islam yang mana ??
Atau yang ini,
Pasukan bernama suporter sepakbola.
Yang beraninya cuma rame-rame.
Nonton bola bawa senjata.
Timnya kalah.
Kemudian berulah.
Tak pake otak.
Atau ormas yang kesukuan.
Sukanya kekerasan.
Tak jauh beda.
Tak pake otak juga.
Mana persatuan dan kesatuan yang dulu diperjuangkan pejuang-pejuang kita ??

Lihatlah kawan..
Lihatlah para pengayom masyarakat kita.
Hormat grak..
Selamat pagi pak polisi lalu lintas.
Hari ini salah apa saya ?
Helm ada.
Surat-surat pun lengkap.
“Tutup ban kamu berwarna” katanya.
Ada-ada saja.
Banyak duit.
Perut pun buncit.
Hormat grak…
Selamat pagi pak polisi.
Hari ini saya mau bikin sim.
Katanya mudah ?!
Tapi kenapa dipersusah ?!
Padahal di depan, saya baca spanduk kuning besar.
“Bukan daerah makelar kasus”.
Katanya begitu.
Tambah banyak duit.
Perutpun buncit.
Rekening ketularan buncit.
Hormat grak…
Ah..
Saya capek hormat terus pak..
Istirahat di tempat grak…

Lihatlah kawan…
Di perempatan jalan.
Anak kecil diajari mengemis.
Ada juga pemuda.
Malas bekerja.
Bisanya meminta-minta.
Di perempatan jalan.
Tin tin tin.
Bunyi klakson motor dan mobil.
Angkutan kota berhenti sembarangan.
Motor-motor sliweran tak karuan.
Ada juga mobil mewah. Keren. Tapi sayang tak tahu aturan.
Nguing nguing nguing.
Bunyi sirine polisi.
Berhenti dulu kawan.
Mobil pejabat mau lewat.

Lihatlah kawan…
Baca berita.
Si “Melon Hijau” meledak lagi.
Disana sini.
Geleng-geleng kepala.
Baca berita.
Seorang Ibu tak punya uang buat menebus obat.
Janda-janda perwira nasibnya ditelantarkan.
Maling helm ditembak mati polisi.
Maling ayam dihakimi massa.
Koruptor bebas.
Tertawa ha ha ha.
Ada pula yang di penjara.
Tapi masih bisa tertawa ha ha ha.
Di selnya ada tivi 4O inchi.

Ha ha ha.
Saya tertawa.
Alangkah lucunya negeri ini.

Tapi, lihat juga kawan…
Ada segelintir anggota dewan yang benar-benar terhormat.
Ada mahasiswa yang pake otak.
Ada segelintir ormas yang hebat.
Ada juga pemuda yang suka bekerja.
Ada segelintir polisi yang jujur.
Ada juga segelintir orang yang taat aturan dan bermoral.
Dibalik segala keterpurukannya,
Negeri ini masih punya peluang menjadi negeri yang hebat.
Percayailah kawan…


Sebuah sindiran untuk mereka yang cuma bisa gembar-gembor. Mencoba ngelakuin hal-hal yang besar, tapi lupa hal-hal kecil. Pengennya ngerubah negara, tapi ngerubah diri sendiri aja belum becus. Daripada mencoba ngerubah negara, kenapa gak ngerubah diri sendiri menjadi lebih baik. Baru mencoba bangun negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s