Bankir Berhati Emas


Bankir idealis tak hanya duduk di belakang meja di ruangan berpendingin dengan berpakaian necis. Bankir idealis bekerja di lapangan, menemui dan melayani nasabah di pasar-pasar tradisional, di kaki lima, dan di ladang-ladang pertanian. Awaldi

Profesi bankir ke depan tidak lagi hanya identik dengan profesi yang borjuis, kapitalis, dan bekerja membesarkan pengusaha yang sudah besar serta membuat yang kaya menjadi makin kaya. Profesi bankir tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan pekerjaan demi mendapatkan penghasilan yang besar dan citra (image) yang mentereng.

Bankir ke depan adalah pekerja-pekerja bank yang analitis, mengerti banking, dapat memberikan profit bagi banknya, tapi juga berjiwa sosial. Bankir yang tidak melulu memikirkan revenue, tapi juga memiliki cita-cita “memerangi kemiskinan”, mengentaskan pengusaha kecil menjadi pengusaha yang lebih mandiri dan profesional, dan pada akhirnya menyejahterakan rakyat secara keseluruhan.

Bankir yang idealis seperti itu tak hanya duduk di belakang meja menunggu nasabah datang. Mereka juga tidak terikat dengan pakaian necis, membawa laptop, dan berkantor di ruang berpendingin. Bankir seperti  itu adalah “bankir berhati emas”, yang bekerja di lapangan, menemui dan melayani nasabah di pasar-pasar tradisional, di kaki lima, dan di ladang-ladang pertanian.

“Bankir berhati emas” dengan idealisme yang tinggi sudah sangat dibutuhkan karena nasabah bank kini tidak hanya orang-orang berduit. Micro finance yang dulu merupakan wilayah bank perkreditan rakyat (BPR) kini sudah menjadi salah satu fokus usaha bank-bank konvensional. Para pengusaha kecil yang membutuhkan modal kurang dari Rp50 juta sekarang dijadikan target market tidak hanya oleh bank-bank kecil, tetapi juga oleh bank-bank besar.

Pengusaha kecil, yang meliputi pedagang ritel, trader, pengusaha restoran, pedagang kaki lima, perajin pedesaan, pengusaha tani, dan lain-lain, adalah pengusaha yang tahan banting. Mereka memiliki tingkat keuntungan yang tinggi dan mampu menyerap kredit, bahkan dengan bunga lebih tinggi daripada bunga komersial.

Dengan jumlah micro entrepreneur yang banyak (lebih dari 51 juta usaha mikro dengan kebutuhan pinjaman lebih dari Rp500 triliun) dan bakal bertambah banyak saban harinya sejalan dengan perbaikan kehidupan di negara kita ini, bank-bank besar pun mulai melirik mereka sebagai target market-nya. Pengusaha yang selama ini paling banter hanya dilayani BPR atau beberapa di antaranya disentuh Bank Rakyat Indonesia (BRI) sekarang dan ke depan akan banyak dicari dan diintai sebagai prospect customer bank-bank besar.

Setidaknya, selain BRI, bank-bank seperti Bank Mandiri, Bank Danamon dengan Danamon Simpan Pinjam (DSP), Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dengan Mitra Usaha Rakyat (MUR), CIMB Niaga dengan Mikro Laju, dan BNI sekarang sudah menetapkan micro banking sebagai salah satu divisi usaha yang penting dalam unit usaha mereka.

Micro banking atau micro finance mengemban dua tugas sekaligus: tugas sosial dan tugas komersial. Kedua tugas itu harus dijalankan secara seimbang. Bank tidak boleh terjebak dengan potensi revenue yang dihasilkan bisnis ini yang memang bisa memberikan margin besar, bahkan dalam angka dua digit. Boleh saja tergiur dengan potensi bisnis yang dijanjikan, tetapi jangan lupa dengan tugas sosialnya dalam “mengentaskan kemiskinan” dan “mengembangkan wiraswastawan kecil”.

Micro banking jangan hanya memberikan fasilitas pinjaman kepada para pengusaha kecil, tetapi juga setidaknya harus bisa membantu mengalkulasi dengan baik kebutuhan finansialnya secara proper. Jangan sampai memberikan kredit yang berlebihan sehingga tidak dapat diputarkan secara baik, dan akibatnya, bukannya membantu, malah menjadikan para pengusaha kecil sebagai nasabah yang menghadapi kebangkrutan. Kerakusan micro finance dalam mengeksploitasi pengusaha kecil dan masyarakat awam dapat menimbulkan geger sosial dan kebangkrutan masyarakat, seperti yang baru saja terjadi di wilayah Arthar Pradesh, India.

Bahkan, lebih ideal lagi jika kredit yang diberikan satu paket yang merupakan bimbingan manajemen dan usaha. Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya akses ke dalam dunia finansial untuk penambahan modal, tetapi juga sekaligus akses bagi kekayaan intelektual untuk membangun dan membesarkan usaha-usaha mereka.

Kecenderungan micro banking yang menetapkan bunga pinjaman relatif tinggi terhadap pengusaha kecil dengan asumsi keuntungan yang diperoleh pengusaha kecil lebih tinggi adalah kurang bijaksana. Kendati pengusaha kecil dapat menanggung tingkat suku bunga lebih besar dari 30% setahun, cara ini terkesan kurang adil. Hal itu mengingat kepada pengusaha yang sudah mapan tingkat suku bunga yang dikenakan bank hanya 3%-5% di atas base lending rate (sekitar 12%-15% setahun). Bank harus menyeimbangkan profit yang bakal didapat dengan visi untuk memajukan pengusaha kecil dan wiraswastawan muda dalam membangun usahanya.

Di sinilah diperlukan “hati emas”. Idealisme di tengah-tengah motif profitability yang kental dalam dunia perbankan. Profesionalisme tidak hanya dalam bentuk bahwa banknya makin profit dan maju, tetapi juga diukur dari seberapa maju pengusaha yang jadi binaan bank tersebut. Indikator ini agaknya bisa dijadikan ukuran keberhasilan micro banking oleh regulator.

Karena itu, pekerja bank dalam industri micro banking bukan hanya mereka yang pintar dan paham ilmu perbankan dengan baik, melainkan juga mereka-mereka yang memiliki idealisme dan filosofi hidup yang altruis. Bankir yang idealis untuk membantu masyarakat binaannya berkembang dan maju. Bankir yang mau melihat kemajuan para pengusaha kecil. Bankir yang bercita-cita melihat bangsa ini makin jaya dengan tingkat kemiskinan berkurang.

Micro banking sekaligus berperan “menetralisasi” unsur kapitalisme dalam profesi bankir. Para mahasiswa yang memiliki idealisme—yang selama ini melihat pengabdian langsung kepada masyarakat sebagai satu-satunya wadah profesi yang tepat—juga akan melihat industri micro banking sebagai salah satu profesi yang sesuai dengan visinya.

Profesi bankir sendiri tidak akan menjadi monopoli para lulusan fakultas ekonomi atau bisnis, yang memang sejak awal sudah terkondisikan berpikir borjuis dan kapitalis. Talent-talent yang juga cocok untuk profesi micro banking adalah para lulusan humaniora (psikologi, sosiologi, antropologi, dan lain-lain) yang dari awal sudah memiliki DNA menolong orang untuk maju dan memiliki idealisme tinggi untuk pengembangan masyarakat.

Lulusan jurusan humaniora adalah calon-calon berbakat sebagai pekerja sosial. Bankir untuk bisnis mikro bagaikan pekerja sosial yang setiap hari berada di lapangan, tanpa dasi, tanpa ruangan berpendingin, dan bersama-sama dengan masyarakat/pengusaha binaannya keluar dari habitatnya dan maju berkembang demi memiliki kehidupan dan usaha yang lebih baik. (*)

Alasan: saya mencopi ini dari infobanknews, karena menarik sekli artikel ini, semoga saya bisa menjadi Bankir Berhati emas itu.,,,, amin

One thought on “Bankir Berhati Emas

  1. Semoga bank btpn mur bisa menjadi bankir yg berhati emas
    !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s