Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

https://qusuth.files.wordpress.com/2011/08/hari-raya.jpg?w=300

Setiap hari adalah istimewa. Seistimewa terbitnya fajar hari ini.blogreader, kita wajib bersyukur atas banyak kenikmatan yang kita peroleh dihari ini. Dapat melihat terbitnya fajar dipagi hari, menghirup udara, mendengarkan kesunyian pagi.. dan masih banyak lagi. Sebegitu istimewanya waktu demi waktu yang kita jalani, hingga dalam al-quran ada surah Al-ashr (waktu). Ini artinya waktu sangatlah berharga. Sehingga sudah sepantasnya kita untuk sangat memperhatikan waktu.

Dan tak terasa, seiring bergulirnya waktu, ramadhan bulan yang begitu indah telah berangsur meninggalkan kita. Bulan yang mana pintu-pintu langit dibuka untuk tiap hamba yang pada malam harinya bersujud dan memohon ampun. Sungguh indah apabila dibulan ini kita isi dengan kenikmatan keheningan malam merasakan sepenuh jiwa apa yang ada di hati kita, yakni kerinduan akan kedekatan dengan pencipta diri kita. Kerinduan untuk merasakan dekatnya jiwa ini dengan pemilik tubuh kita. Namun sayang, kita tidak punya satupun daya dan kekuatan untuk menahan bergulirnya ramadhan walau cuman sedetik dan sesaat.

Sahabat, semua yang ada pada diri kita adalah titipan, yang nantinya akan diminta kembali. Tidak cuman kebendaan, tetapi juga tubuh yang ada pada diri kita, aliran darah dan tarikan nafas yang ada pada diri kita, semua titipan. oleh karenanya mari kita jaga dan pergunakan dengan sebaik-baiknya dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat baik..

saya mengucapkan selamat Hari Raya idul Fitri. Semoga datangnya bulan syawal tahun ini, benar-benar merupakan pintu kebeningan hati, untuk melewati 11 bulan perjuangan yang sesungguhnya… Selamat hari Raya Idul Fitri..

Advertisements

17 AGUSTUS 2011

https://qusuth.files.wordpress.com/2011/08/puisi17agustus.jpg?w=200

 

Hari ini 17 Agustus 2011, kuingat kau para pejuang berdarah merah berhati sutera tak berbandrol harga. Kini 66 tahun perjuanganmu ternyata percuma tertelan penguasa, hingga tak kuasa kurayakan sendiri Ulang Tahunmu di dalam kamar gelap berbalut selimut doa, dengan cahaya lilin, bendera kecil sederhana, dan kue sisa kemarin yang sengaja kusisakan untukmu Indonesia. Selamat Ulang Tahun.

Peristiwa Rengasdengklok

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana –yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka –yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

 

suber : http://id.wikipedia.org/wiki/

Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Tadashi Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.

Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti “transfer of power”. Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.

Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[2] Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[3] (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).

sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki

Aku belumlah petang merah jingga di detik menit

Bagai kepak sayap burung pulang

perkasa di selasar bintang,

laksana camar menjelajah riang

selami laut penuh tawa

waktupun betah berlabuh: menunggu di bulan agustus

Aku belumlah petang merah jingga di detik menit

yang hanya duduk membatu menatap

dentang usia

Aku sejatinya adalah pelukis masa dan kisah

bagai senyum berpendar dengan beribu kunang kunang

hingga malam tak lagi gulita.

Grandtropichotel, 11 agustus 2011