Memperkosa waktu

Langit sudah keunguan berbentur dengan keemasan, dan senja telah menggoda mentari untuk mencumbu fajar, maka malam akan hadir bersama gelapnya. Bersama pekatnya, bersama lekat dinginnya. Bulan akan menjadi dewi satu-satunya dan bintang akan menjadi dayang-dayang. Sungguh istana angkasa yang megah dan indah. Ya, megah dan indah jika mereka semua berharmoni dalam suatu guratan suci yang menakdirkannya untuk menerangi bumi. Menyinari secercah cahaya untuk melepaskan manusia dari kesakitan-sakitan nurani, dari perangkap-perangkap duniawi. Memberi perhiasan pada waktu yang tak lelah memberi ruang pada mereka dan kami manusia. Menabur kerlip-kerlip pada hidup yang  mati rasa. Memercik sinar pada rasa yang nyaris hambar. Namun, malam ini bulan seperti sedang enggan menyinari, memberi, menabur dan memercik apapun. Aku tak tahu dan tak mengerti.
Kegelapan malam menjadi tempat pembaringan bulan yang sudah sangat pasi. Dihimpit kerinduan pada bintang. Awan beringsut memeluk bulan dalam syahdu kesunyian. Langit temaram, suram, kelam. Begitu mengharukan. Kilatan-kilatan dengan gema dan gaung mengerikan mencakar, mencabik, menampar langit. Sementara bumi, bersorak-sorai ditengah kegundahan bulan. Manusianya ingar bingar, terhipnotis kecantikan waktu. Waktu menjadi pelacur sekarang. Semua orang berlomba menikmati waktu dengan kesenangan tiada tara, mencumbunya dengan birahi-birahi setan. Menciuminya dengan beringas, menggelinjang dan mendesah panjang. Dan jika waktu sudah kelelahan, manusia itu akan menghibur diri “aku punya banyak waktu”.  Waktu tak ditakdirkan untuk berbicara, hanya ia tak pernah mati. Tuhan memberikan banyak nyawa padanya. Manusia-manusia itu lalu mengangkangi waktu, dimana saja. Di tempat tidur, kamar mandi, ruang kerja, kantor, sekolah, kampus, angkutan umum, toilet, kafe, bar-bar, hotel, jalanan. Manusia semakin tidak senonoh terhadapnya. Memelototinya dengan tatapan mesum. Menelanjanginya.
Waktu memang memperdaya manusia, dengan segala daya pikat yang membuat siapa saja ingin memeluknya. Samar-samar harumnya. Waktu terlalu menggairahkan bagi mereka yang tak tau bagaimana menghargainya. Laki-laki, perempuan, tua, muda, bodoh, pintar, kaya, miskin. Semua sama, mereka tak pernah diberikan pelajaran bagaimana cara menyayangi waktu dengan tulus. Waktu tak punya kaki untuk berlari, tak punya tangan untuk mencabik, tak punya lidah untuk berteriak. Jadilah siapa saja merasa berhak mempermainkan waktu, memperkosanya dengan keji, dengan lenguhan dan desahan menjijikkan yang muncrat dari tiap celah bibir yang menganga merasakan kenikmatan waktu. Waktu menjadi pelacur sekarang.
Dan yang lebih menggelikan lagi adalah ketika mereka mempersalahkan waktu ketika istri-istri atau suami-suami mereka marah karena uang yang cepat habis, karena masakan yang hangus. Karena mereka terlalu asik dengan waktu, menghabiskannya dengan sekeji-keji laku. Ketika pemerintah dan rakyat saling menyalahkan karena banjir, karena korupsi. Karena mereka terlalu nikmat memperkosa waktu, menjepitnya ditengah-tengah kewajiban berlaku. Ketika murid dan guru saling menertawakan kebodohan, karena salah pengertian, karena salah ilmu. Karena mereka terlalu sibuk menelanjangi waktu, bermalas-malasan dengannya, mengangkanginya dan melenguh.
Aku berani bertaruh! Jika waktu punya kaki, ia akan menginjak-injak kalian, menendang tanpa perasaan, yang ada hanya hati yang dipenuhi dendam mendalam, lalu berlari, berlari sampai jauh dan bunuh diri. Jika ia punya tangan, ia akan mencabik dada kalian, mencakar muka kalian, menjambak rambut kalian. Jika ia punya lidah, ia akan berteriak hingga kerongkongan tercekat, mencaci maki kalian dengan umpatan-umpatan sampah yang bahkan telinga ini belum pernah mendengar, mengumpat dengan kata yang belum pernah diperbincangkan anak manusia, meludahi kalian dengan air ludah yang pekat, lengket, bau amis dan membuat hidung manapun serasa ditusuk-tusuk.
Hanya segelintir manusia yang tahu bagaimana mencintai waktu, mencumbu tanpa merendahkannya, bernafas bersamanya. Meniup embun dalam hangatnya. Memberi madu pada hambarnya. Menghela rasa pada dinginnya. Hanya segelintir orang yang mau bersabar menunggu waktu menjadi muhrimnya. Meminangnya dengan seindah-indah perhiasan. Lalu ketika masa depan tiba, waktu kan meniup manis dari bibirnya. Mengecup bibir-bibir pencintanya yang memperlakukannya dengan sebaik-baik laku, dan yang membisikannya seindah-indah kata.
Dan sampai saat itu tiba, bagi mereka yang memperkosanya, yang menjahatinya tak berperi, ia akan menjelma menjadi sebilah pedang. Sebilah pedang yang kapan saja siap menebas kepala-kepala mereka yang isinya lebih dari nista, menghujam dada-dada mereka yang isinya lebih dari hina. Menumpas mereka dan membuatnya menjadi onggokan-onggokan daging bernama, yang sesal akan masa lalu, yang mati kemudian.

Lalu, bulan akan sekarat, bintang-bintang di sisinya akan mengiba, langit akan menangis, angin akan mengalunkan elegi-elegi mengiris hati, dan bumi hanya akan membisu

diambi dari sumbernya :
amateurnotmaster.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s