SALAH TENTANG HIPERTENSI

Dalam masyarakat kita terdapat cukup banyak salah kaprah mengenai darah tinggi. Salah kaprah ini justru menimbulkan miss diagnosis hingga gagal terapi. Banyak penderita hipertensi yang gagal terapi pada akhirnya menimbulkan komplikasi berbagai organ. Berikut salah kaprah hipertensi yang sering saya temui di masyarakat:

1. Tekanan darah di bawah sama dengan 140/90 masih dianggap normal
menurut JNC 7 tekanan darah dikatakan normal bila tekanan sistolik <120 dan tekanan diastolik <80. Jadi tekanan darah 120/80 saat ini sudah tidak termasuk normal melainkan termasuk kategori prehipertensi. Prehipertensi belum membutuhkan terapi obat, hanya dianjurkan pola hidup sehat

2. Usia > 40 tahun atau yang orang tua jika tensinya tinggi masih di anggap normal
pernyataan ini sering saya temui di praktek umum atau di rumah sakit. Manusia dewasa berapapun usianya dari 18 tahun – 120 tahun tekanan darah yang normal adalah <120/<80. Jadi tidak tepat apabila ada seorang kakek / nenek yang tekanan darahnya 140/90 tidak mendapatkan terapi.

3. Remaja atau dewasa muda (usia 25-35 tahun) tidak terkena penyakit hipertensi
Remaja berusia 18 tahun pun sudah ada yang terkena hipertensi. Bahkan sudah ada beberapa kasus usia 25 tahun meninggal karena stroke. Saat ini angka kejadian hipertensi sudah menghantui usia remaja tidak hanya orang tua. Hal ini jelas dipengaruhi pola hidup tida sehat seperti sering mengkonsumsi makanan tidak sehat, kurang gerak, merokok dan stress.

4. Obat penurun darah tinggi hanya diminum kalau muncul gejala saja
Hal ini jelas tidak tepat, obat penurun darah tinggi atau obat anti hipertensi harus diminum seumur hidup. Banyak penderita yang berhenti minum obat ketika keluhan hilang (umumnya mengeluh sakit kepala). Padahal ketika obat tidak diminum tekanan darah akan kembali tinggi dan bisa menyebabkan kerusakan organ seperti otak, jantung dan ginjal. Jika ada kesulitan meminum obat, konsultasikan ke dokter anda. Saat ini sudah banyak pilihan obat anti hipertensi untuk memudahkan penderita hipertensi.

5. Obat darah tinggi harganya mahal
Siapa bilang? mungkin iya jika obat yang diberikan adalah obat paten. Captopril (salah satu anti hipertensi yang paling terkenal) harga satu keping (10 tablet) 5000 rupiah. Untuk pasien JAMKESMAS sudah dijamin pemerintah, tinggal minta gratis di puskesmas, so sudah tidak alasan untuk tidak berobat 

tips : jika diresepkan obat paten oleh dokter anda, untuk selanjutnya tinggal beli obat generiknya, soalnya harga obat generik jauh lebih murah. Biasanya pada kemasan obat paten yang diresepkan ada nama generiknya, anda tinggal beli di apotik, tapi anda harus tetap kontrol ke dokter ya 

6. Timun dapat mengobati hipertensi
Timun secara empirik (baca: turun-temurun) memang dapat menurunkan tekanan darah. Walaupun belum banyak penelitian yang membahas efektivitas timun dalam menurunkan tekanan darah. Seberapa banyak yang harus dimakan dan berapa kali sehari juga belum diketahui secara pasti. Lagi pula banyak penderita yang merasa eneg apabila harus terus menerus mengkonsumsi timun. Sebaiknya gunakan obat anti hipertensi (yang diresepkan dokter anda) dengan dosis yang tepat dan sudah terbukti efektif mengontrol tekanan darah

7. Hipertensi dapat disembuhkan
Ini bukan berita buruk..hipertensi memang tidak dapat disembuhkan tapi bisa terkontrol caranya dengan modifikasi gaya hidup dan minum obat teratur. 90% penyebab hipertensi adalah idiopathic atau bahasa kerennya belum bisa dijelaskan. Tetapi dicurigai faktor pemicunya adalah faktor keturunan dan gaya hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas, merokok, makan yang tidak sehat dan stress.

Buat anda yang mempunyai faktor resiko keturunan (anggota keluarga ada yang hipertensi), sebaiknya harus lebih hati-hati, mari modifikasi gaya hidup, yang masih merokok? berhenti total! yang malas gerak? daftar fitnes atau ikut senam, yang suka makan junk or fast food? belajar makan sayur dan buah ya.. yang suka stress?? perbanyak ibadah nya 

sekian sedikit info dari saya, semoga bisa memberi manfaat bagi yang membacanya.

sumber:http://doddyrizqi.blogspot.com/2012/11/salah-kaprah-hipertensi.html

Advertisements

Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang
dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu,
meski langit telah mulai menguning,burung- burung
gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan
petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan
Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah
kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan
Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati
mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku,
akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar
dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman
menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati
semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir
usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu
semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap
menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari
mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti
akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari
kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup.
Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah
dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi
pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang
berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?”
tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang
membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
“Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah aku ayah,
sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur
Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan
yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah
hendak di kenang. “Ketahuilah, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,”
kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah
menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian
dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap
diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan
penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah
menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu, ” kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya
masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar
kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku
bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga
bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh
tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang
di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga
kaupalingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang tega,
melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena
sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat
niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai
dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis
shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat
dan santuni orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di
wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii,
ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini,
mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli
‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

* * *
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan
kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran
untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan
Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain
daripada itu hanyalah fana belaka