Hukuman jaman Batavia

Salah satu tempat yang sering mendapat perhatian di Museum Sejarah Jakarta adalah ruangan yang terdapat di halaman belakang. Dulu ruangan-ruangan ini gelap dan ditutup dengan pintu kuat. Cahaya dan sirkulasi udara hanya melalui sebuah jendela berteralis tebal. Di sisi-sisi tembok terdapat bola-bola besi untuk merantai para tahanan. Sebelum menjadi museum, pada zaman Hindia Belanda memang gedung ini dipakai sebagai balai kota atau stadhuis.

Sebenarnya tempat tahanan terdapat pula di lokasi-lokasi lain. Hanya bukti-bukti fisiknya kurang mendukung. Mungkin dirobohkan lalu diganti bangunan baru. Berapa jumlah tahanan ketika itu, tidak diketahui pasti. Ada berbagai alasan mengapa orang-orang ditahan di tempat ini. Diketahui sampai 1763 orang yang tidak bisa membayar hutang, ditahan seumur hidup. Baru di tahun-tahun berikutnya lama penahanan diubah menjadi enam tahun. Pada 1778 hukuman kurungan enam tahun ini untuk bukan orang China diubah lagi, tapi tak ada data jelas berapa lama hukumannya.

Pada 1736 di dalam penjara sipil terdapat 64 sandera, 40 tahanan, dan 333 budak. Setelah itu tidak ada lagi berita tentang penjara. Hanya pada 1774 dikatakan di dalam sel penjara masih ditahan 2 sandera, 7 tahanan, dan 23 budak. Istilah sandera dimaksudkan untuk orang yang belum membayar pajak sementara budak adalah titipan para juragan kaya yang membayar jumlah tertentu kepada sipir penjara.

Penyiksaan

Soal hukuman, sebenarnya sejak 1602 VOC sudah dibebani pekerjaan untuk menanggulangi hukum dan peraturan. Pada awalnya tidak ada masalah karena yang terlibat hanya pegawai sendiri. Namun kemudian Batavia menjelma menjadi kota yang multietnis, sehingga membingungkan VOC untuk menerapkan hukum yang mana. Pada 1621 diambil keputusan bahwa semua hukuman dan aturan yang berlaku di Republik juga berlaku di Hindia.

Ahli hukum dan Gubernur Jendral Joan Maatsuycker pada 1640 ditugaskan untuk menyusun secara sistematis hukum kolonial. Dia menyatukan semua undang-undang, ordonansi, tradisi, dan aturan. Karya ini dikenal sebagai Bataviasche Ordonnanties (Dari Stadhuis Sampai Museum, 2003).

Menurut undang-undang tersebut, terdakwa yang telah ditangkap sambil menunggu keputusan, akan dimasukkan ke dalam penjara. Kecuali kalau ada orang mengamuk, dia akan dibunuh di tempat. Kalaupun dia ditangkap, akan dihukum dengan mematahkan semua anggota badannya di atas roda.

Undang-undang Belanda menentukan bahwa seseorang hanya dapat dihukum, jika dia telah mengaku. Namun untuk memperoleh pengakuan, sering kali terdakwa disiksa terlebih dulu. Dalam balaikota terdapat satu kamar penyiksaan, namun tidak jelas kamar yang dipakai.

Umumnya orang dihukum karena perbuatan kecil, seperti mencuri, memfitnah, mabuk, atau berkelahi. Ada juga yang melanggar aturan VOC seperti tidur pada jam jaga dan tidak hadir tanpa izin. Hukuman yang ringan adalah membayar denda. Yang lebih berat berupa pemecatan, penahanan seluruh gaji, dan pengembalian terdakwa ke Belanda.

Kerja paksa dan pengasingan

Di tahun-tahun awal kekuasaan VOC, keputusan hukum dilakukan oleh Gubernur Jendral dan Dewan Pemerintahan. Karena semakin hari tugas mereka semakin banyak, maka mulai 1620 tugas tersebut diwakilkan kepada Dewan Pengadilan. Namun pemerintah pusat masih memegang hak untuk memberikan grasi. Eksekusi hukuman mati juga hanya dapat dilakukan dengan persetujuan pemerintah pusat.

Sayang pengetahuan Dewan Pengadilan tentang hukum dianggap masih kurang. Untuk itu berkali-kali tenaga dari Belanda dikirimkan ke sini. Baru setelah 1656 hampir semua anggota Dewan Pengadilan adalah ahli hukum. Dewan ini bertugas menangani semua persoalan kriminal dan sipil di Batavia.

Setelah itu hukum menjadi ketat. Bukan hanya perkara kriminal, pencemar nama baik juga kena hukum. Bentuk hukumannya dengan memasukkan terdakwa ke dalam kerangkeng besi, lalu dipajang di depan Gedung Balaikota. Buat terdakwa militer, dia harus duduk berjam-jam di atas ”kuda kayu”, yakni sebuah rak kayu dengan permukaan yang tajam. Sementara dia duduk, kaki-kakinya dipasangi pemberat. Tentu saja malunya itu luar biasa, jadi objek tontonan banyak orang sambil diledek ”mau ke mana nih” atau ”tolong antarkan surat ini yah”.

Hukuman yang lebih berat untuk tentara adalah ”ayunan”. Terdakwa diikat pada kaki dan tangan lalu ditarik ke atas. Dari atas dia dibiarkan jatuh bak pemain sirkus namun tidak sampai menyentuh lantai.

Pada abad ke-17 dan ke-18 belum ada hukuman penjara, dalam arti harus menempati sel selama jangka waktu tertentu. Namun sejak 1641 sudah terdapat penjara bagi wanita yang antara lain melakukan prostitusi, bertengkar dengan pasangan, dan berbuat keji terhadap budak. Mereka dikurung dan diwajibkan memintal benang untuk biaya hidup mereka.

Hukuman yang paling umum bagi orang Eropa dan Asia adalah siksaan dan kerja paksa dengan dirantai selama beberapa bulan sampai sepuluh tahun. Hukuman tambahan adalah ”cap badan” sebagai tanda bagi polisi untuk mendeteksi para residivis sampai potong kuping.

Mereka yang mendapat kerja paksa biasanya ditugaskan mengeruk kanal-kanal atau bekerja di pabrik pembuatan tali-temali. Pada 1705 kamp tahanan kerja paksa dipindahkan ke Pulau Edam (Damar). Sampai 1795 kamp ini masih berdiri dan kemudian dikosongkan karena khawatir serangan Inggris.

Hukuman lain adalah pengasingan ke Maluku, daerah yang waktu itu berbahaya bagi kesehatan. Tempat pengasingan lain adalah Ceylon (Srilanka) dan Afrika Selatan.

Eksekusi dan Pemotongan

Hukuman mati di Batavia sangat tinggi. Pada awal abad ke-18, Amsterdam yang memiliki 210.000 penduduk, hanya melakukan lima hukuman mati per tahun. Di Batavia angka ini menjadi dua kali lebih besar, padahal jumlah penduduk hanya 130.000.

Seseorang akan dihukum mati bila membunuh, baik terencana maupun tidak terencana. Begitu juga bila memperkosa atau menculik. Biasanya hukuman mati dilakukan dengan cara pemenggalan, untuk masyarakat sipil dan tembak mati, untuk tentara.

Pada kasus-kasus berat malah ditambah pemotongan anggota badan. Pada kasus paling berat terhukum akan diikat pada roda, semua anggota badan dipukuli agar patah, juga ditusuk di atas tiang besi. Hukum jenis ini memang tergolong kejam karena dia akan meninggal secara perlahan-lahan dengan penderitaan fisik luar biasa.

Hukuman pancung dianggap paling bermasalah karena suatu waktu pernah sang algojo tiba-tiba jatuh sakit. Ketika itu tidak ada penggantinya yang bisa memenggal. Hukuman gantung pernah dilakukan. Namun kemudian digantikan hukuman lain karena dianggap tidak terhormat.

Pada abad ke-17 dan ke-18 kegiatan homoseksualitas dianggap dosa paling berat karena dipandang melanggar perintah Tuhan. Mereka yang ketahuan akan dihukum mati. Kedua pria yang akan dihukum diharuskan berhadapan punggung lalu diikat. Setelah itu dimasukkan ke dalam karung dan ditenggelamkan. Hukuman yang sama diberlakukan untuk orang yang melakukan seks dengan binatang atau sodomi.

Hukum di Batavia benar-benar tidak pandang bulu. Petrus Vuyst, Gubernur di Ceylon (1729-1732) dihukum mati di sini. Gara-garanya dia dianggap sangat kejam terhadap pegawai Kompeni dan penduduk lokal Ceylon. Dia diikat dan didudukkan telanjang di atas kursi. Lalu lehernya ditusuk dengan pisau. Badannya dipotong menjadi empat bagian, dibakar, dan abunya disebar.

Namun pengadilan tetap saja ada yang tidak adil. Sesekali penyalahgunaan kekuasaan dilakukan oleh Gubernur Jendral atau Dewan Pemerintah Harian. Yang paling dikenal adalah kasus Pieter Erberveld, yang dianggap mau memberontak kepada Kompeni.

Pelaksanaan eksekusi dilakukan di sebuah panggung di depan balaikota. Yang lebih ringan dilaksanakan di bagian belakang gedung, dengan cara digantung. Sementara pelaksanaan eksekusi dari Dewan Pengadilan dilakukan di sebuah lapangan di depan kastil.

Pada saat-saat terakhir si terhukum didampingi seorang tenaga rohani yang memimpin doa dari alkitab. Hal ini juga berlaku bagi orang Islam dan China. Diharapkan pada saat terakhir mereka mau mengganti agama dan menjadi Kristen.

Eksekusi biasanya dilakukan pagi hari, setelah lonceng di menara balaikota dibunyikan. Beberapa jam kemudian jenazah dibawa ke lapangan tiang gantung, dipajang di
sana pada roda sampai hancur sendiri.

Bagi masyarakat Eropa, eksekusi mati merupakan hiburan. Sebaliknya bagi orang Asia, kematian adalah bentuk pengorbanan manusia.

Advertisements

Soeharto antara mitos & sejarah

Posted Image

Indonesia harus memiliki pemimpin Lembu Petheng -anak yang tak jelas siapa bapak kandungnya- seperti Ken Arok, seperti Pak Harto yang juga tak jelas siapa bapaknya, karena orang yang tak jelas siapa Bapaknya tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu. (Sudjiwotedjo, Indonesian Lawyer Club 2011)

Ucapan Sudjiwotedjo saat itu menjadi tertawaan banyak orang di studio ILC dan penonton TV One, karena memang tak banyak yang mengerti kedalaman filsafah dalam sejarah Jawa seperti ungkapan Sudjiwotedjo itu.

Sejarah Jawa adalah sejarah suksesi, sejarah kudeta dan sejarah berdarah-darah dalam merebut tahta kekuasaan. Banyak tokoh yang kemudian muncul tiba-tiba dalam panggung sejarah, tanpa masa lalu, tanpa beban silsilah ia kemudian mengklaim sebagai anak para Dewa, anak Para Raja, dan dengan begitu mereka menggenggam mitos. Mitos adalah buku suci dalam kekuasaan para Raja Jawa, tampaknya ini juga yang dipegang dalam konstelasi perpolitik nasional kita yang belum lepas dari kesejarahan mitos atas silsilah di masa lalu. Naiknya Megawati dan SBY juga tak lepas dari Mitos atas kerja orangtua mereka dimasa lalu. Sehingga silsilah menjadi begitu penting dalam kerja politik kita, penghancuran mitos ini belum reda sampai sekarang.
Mitologi silsilah inilah yang kemudian ditembak oleh Sudjiwotedjo dalam melihat kasus Suharto. –Bagaimana mungkin seorang anak petani biasa membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX tertunduk dan menurut pada Pak Harto, bagaimana mungkin orang yang begitu Prabawa dan penuh kharisma seperti Bung Karno seperti gemetar ketakutan melihat Suharto, bahkan di akhir tahun 1966 dengan nada galau Sukarno berteriak tiga kali menyebut Suharto sebagai keadaan bahwa tak boleh ada yang merebut kursi Presiden : “Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto….” kata Bung Karno sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah barisan para Jenderalnya. Ada apa dengan kekuatan Suharto?

Jelas Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan dihadapan Dadong (nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal), Sukarno menyatakan siap menghadapi perang sebesar apapun, dan itu memang sudah dilakukan Sukarno ketika ia meletuskan kata-kata Dwikora dan mengancam perang dengan Malaysia, sebuah pidato yang mirip pidato Franklin Delano Roosevelt, “Pidato Pengumuman Perang terbesar setelah Perang Dunia II selesai” di koran-koran besar Amerika menjuluki Sukarno sebagai ‘Tiran’ dengan kekuatan tanpa tanding yang mengancam dunia bebas, tapi di sisi lain di negara-negara bekas jajahan dan negara tertindas Sukarno dijuluki “Hadiah Tuhan untuk Kebebasan Bagi mereka Yang Tertindas” disini Sukarno menunjukkan bukan saja orang nomor satu, tapi juga tokoh dunia.

Sementara Jenderal AH Nasution sendiri saat menunggui anaknya di RS Gatot Subroto yang sekarat tertembak pasukan penculik pimpinan Letkol Untung, menampik saran Adam Malik. Saat itu Adam Malik berkata pada Nasution yang juga merupakan sepupunya sendiri “Nas, kau ambil itu kekuasaan Angkatan Darat, sekarang juga kau ke Kostrad, kau pegang sendiri militer” tapi Nasution menolak dengan alasan bahwa “bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku yang sekarat untuk urusan pekerjaan”. Disinilah kemudian Adam Malik kecewa, dan menganggap Nasution lemah, tapi mungkin Adam Malik lupa, sepanjang sejarah karir militer Nasution, ia tak berani berhadapan head to head dengan Sukarno. Seperti yang diucapkan Nasution sendiri di Amerika Serikat dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat di awal tahun 1960-an “Saya tak mungkin berhadapan dengan Sukarno, dialah yang menyadarkan saya tentang arti kemerdekaan, sebelum saya tahu apa itu merdeka di masa saya sekolah dulu” ini artinya kekuatan Sukarno memang secara personal luar biasa, dan anehnya kekuatan Sukarno bisa lebur ditangan Jenderal yang sama sekali tak dikenal sebelumnya, nama Jenderal itu pernah disebut-sebut di koran-koran sepanjang konflik politik yang panas pada paruh pertama 1960-an, namanya hanya muncul sekilas saat pemakaman Jenderal Gatot Subroto dan saat ia diangkat jadi Panglima Mandala dalam Perang Perebutan Irian Barat, itupun kemudian namanya tenggelam oleh Subandrio, Menteri Luar Negeri yang memiliki kelihaian diplomasi dengan mencari celah dukungan Inggris dan Amerika Serikat dalam menendang Belanda keluar dari Irian Barat.

Suharto lahir dari situasi yang tak jelas – Pernyataan ini bukan hanya lahir dari majalah-majalah gosip yang banyak bermunculan di tahun 1970-an mengenal asal usul Suharto, tapi juga dari buku-buku yang berbobot ilmiah tinggi seperti buku Robert Edward Elson, seorang Profesor dari University of Queensland, Australia yang secara serius meriset Suharto. Dalam satu bab pertamanya tentang asal usul Suharto menjadi bagian paling rumit untuk mendefinisikan kepribadian dan posisi psikologis Suharto dimasa mendatang, analisa Elson ini mirip dengan Karl Marx dalam mengotopsi kritik atas Kapital dalam tulisan Das Kapital tentang bagian pertamanya yang abstraktif untuk mendefinisikan fungsi komoditi dalam kehidupan manusia begitu juga Elson menyajikan riset atas konfigurasi keluarga Suharto yang rumit, mengenaskan serta tidak jelasnya siapa ayah kandung Suharto sesungguhnya dan berpengaruh atas kepribadian Suharto yang pendiam, menganalisa masalah, mempertimbangkan keadaan serta hati-hati dan kepribadian ini menjadi modal dalam keberhasilan hidupnya.

Suharto lahir 8 Juni 1921, angka ini juga masih diperdebatkan banyak orang, namun Suharto sendiri meredakan perdebatan ini dan ia secara gamblang menyatakan tanggal lahirnya adalah 8 Juli 1921. Suharto dilahirkan dari seorang Ibu yang galau, yang stress dan seorang sedang prihatin. Hal ini dinyatakan dalam Elson pada bab pertama buku tentang Suharto. – Di buku lain karangan Roeder : Anak desa : Biografi Presiden Suharto, menyebutkan dua tahun setelah kelahiran Suharto orangtua mereka bercerai, tapi Elson lebih ganas lagi menyebutkan waktunya : Orangtua Suharto bercerai empat minggu setelah kelahiran Suharto.

Sukirah sendiri mengalami kondisi stress, ia dikabarkan hilang dan ternyata sedang ‘ngebleng’ puasa tanpa makan dan minum, ia merasa membawa beban hidup yang amat berat. –Kondisi ini secara tak sadar hanya sekilas saja diberitakan para ilmuwan barat yang berpaham rasional, namun bagi kalangan Jawa yang mengerti ilmu kebatinan, jelas Sukirah mengalami beban psikologi luar biasa karena ia mengandung ‘Seorang Raja di Masa Depan’. Penduduk kampung mencari-cari Sukirah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan hampir mati karena kurang makan dan minum.

Dari situasi keprihatinan yang tinggi itulah Suharto lahir. Di usia empat tahun Suharto sudah diserahkan ke kakak ibunya, pada keluarga Kromodiryo. Pada usia yang masih amat muda sekitar lima tahun dan ini mengherankan bagi anak desa seumurnya, Suharto sudah disekolahkan. –Suharto yang berada di dusun amat terpencil bisa bersekolah bagus ini juga menjadi bahan riset yang menarik, siapa ayah Suharto sesungguhnya? Suharto sendiri tak mengalami ikatan emosional yang tinggi kepada orang yang dianggap ayahnya yaitu Kertosudiro, -kemungkinan Suharto sudah mengerti bahwa Kertosudiro bukan ayah kandungnya (Elson, bab I –Permulaan dan Masa Muda Suharto). Di dalam buku otobiografi-nya : Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan, yang disusun oleh Ramadhan KH mengatakan : “dimasa lalu ada teman seingat saya bernama si Kromo, yang mengata-ngatai saya sebagai ‘Den Mas Tahi Mabul’. Dan ini penghinaan bagi Suharto kecil, lalu Suharto menonjok anak itu dan itulah pengalaman satu-satunya Suharto berkelahi, ini artinya berbeda dengan pengalaman berkelahi pertama Sukarno yang mempersoalkan dia dilarang main bola oleh Sinyo Belanda karena ia seorang Pribumi tapi Suharto berkelahi karena persoalan tak jelas asal usulnya. Dari Sukirah sendiri Suharto memang ada keturunan bangsawan Yogyakarta, kakek buyut Suharto : Notosudiro, memiliki isteri yang merupakan anak perempuan dari Hamengkubuwono V.

Terlepas dari situasi sulit siapa ayah kandungnya, perpecahan keluarga dan segala macam konflik psikologis dalam lingkungannya Suharto tumbuh secara baik, ia adalah pemuda yang tampan, berwajah ningrat dan sangat halus perangainya. Beberapa kali Suharto menjadi bahan rebutan antara Sukirah dan Kertosudiro, sehingga Suharto harus tabah dalam menjalani kehidupan. Suharto sendiri mengakui saat paling bahagia adalah ketika ia ‘ngenger’ (menumpang) pada keluarga Prawirohardjo, yang salah satu anaknya adalah Sulardi, di Wuryantoro. Lewat Sulardi inilah Suharto berkenalan dengan Hartinah, puteri wedana di Wonogiri, yang juga merupakan kawan sekelas Sulardi, kelak Hartinah adalah isteri Suharto.

Suharto hidup prihatin, ia senang sekali berpuasa “Saya sudah mengalami banyak laku, banyak tindakan pertapaan di diri saya, satu-satunya yang belum saya lakukan adalah tidur diatas sampah” kenang Suharto dalam biografinya. Bertapa adalah ‘keprihatinan’ ala orang Jawa dalam memahami penderitaan, dalam keprihatinan manusia tidak boleh hidup enak, mereka harus mendidik dirinya sendiri dengan keras agar tidak gampang mengeluh dalam kehidupan dan kuat menghadapi godaan dalam menjalani cita-cita. Guru Suharto paling awal dalam soal kebatinan dan pemahaman pada nilai-nilai filsafat Jawa adalah Kyai Daryatmo yang ditemui Suharto sewaktu muda.

Kemampuan Suharto dalam mengolah diri inilah yang kemudian berhasil menjadikan dirinya sebagai orang disiplin. –Ia juga terus menerus mencari daya linuwih dalam kehidupannya, ia orang yang tidak gemar kenikmatan hidup, ia hanya menjalani apa yang diyakininya benar –terlepas keyakinannya itu membuat sengsara banyak orang, atau membuat keadaan susah- ia tahu apa tujuannya.

Perkenalan Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL, awalnya ia ingin melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi, hal ini ia lakukan karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah. Namun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan yang dibuka hanya sebagai juru masak, sekeluarnya dari pendaftaran kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka pendaftaran, ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau awal 1940. Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar 35.000 orang pribumi saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi menghadapi serbuan Jepang. Namun tampaknya wacana militerisasi kaum pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan ‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari, akhirnya kaum pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang, ratusan ribu senjata yang sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia Belanda memilih lari ke Australia.

Suharto masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk.

Ada cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL, ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito, Sukardjo bercerita dalam bukunya : “Mereka Menodong Bung Karno” bahwa Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta.

“Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya kepadaku. “Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawabku sambil mengerat tebuku untuk kugigit dipatahkan. “Penting sih tidak, cuma mau minta pamit”.

“Memang mau kemana sih mas?”

“Aku akan masuk Kumpeni” kata Suharto. “Sekolahan?”

“Aku sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya “Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?”

(Percakapan ini tercatat dalam buku “Mereka Menodong Bung Karno, Kesaksian seorang Pengawal Presiden, Soekardjo Wilardjito, Galang Press cetakan I, 2008)

Suharto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Suharto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang : Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan, sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno dan menurut pengakuannya menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai : Mayjen Panggabean, Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan. Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di Indonesia. Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia sepupu Suharto (?), namun yang jelas disini Suharto bisa amat dingin membedakan mana saudara, mana politik, dan inilah yang kemudian membuat Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang cenderung lemah.

Kemampuan Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat “pendiam” Rosihan Anwar sendiri pernah menceritakan hal itu “Saya berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara, ia hanya menyetir mobil, lalu masuk pedesaan, ia juga memetik kelapa dan satu-satunya ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” ketika menawari air degan (degan=kelapa muda) –Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri) sebut Rosihan menjuluki watak Suharto. Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis “Wis dipateni wae (sudah dibunuh saja)” jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia.

Posted Image

Suharto amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan kemiliteran di PETA, saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah : Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang. –ada hal lain yang perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL, dalam PETA tidak adanya pengaruh sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri sementara KNIL amat dipengaruhi keputusan sipil, watak dasar entitas inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.

Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia, ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia, ia langsung bertindak di Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik, ini adalah keputusan menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan memiliki karir bagus di PETA ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik, tapi Suharto lebih memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia, pilihan ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh Tan Malaka dan Bung Karno. Bagi Suharto nasionalisme adalah soal kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32 tahun.

Suharto adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah : Penangkapan Djenderal Mayoor Sudarsono, saat itu Sudarsono adalah orang yang paling berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta, ia yang menyerang seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia, kekuatan pasukan inilah yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama NICA.

Di awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok : Kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin yang saat itu mereka bersatu dalam Partai Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki perundingan kepada Belanda sementara di pihak lain kelompok oposisi yang dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi dengan Belanda. “Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita 100%”. Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah pengagum Tan Malaka, ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan Malaka pidato, anak buah Sudirman Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka, namun ada situasi over acting dari tindakan Sudarsono yaitu menangkap Perdana Menteri Sjahrir dan pengikutnya.

Tindakan Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno, seorang pemimpin pemuda bernama Sudjojo memerintahkan Suharto –yang saat itu sudah menjadi Letkol karena keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan Jenderal Sudirman- untuk menangkap Sudarsono, sementara tak lama kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono.

Suharto berpikir, “bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono” tapi Suharto amat hati-hati ia membalas surat Sukarno “ia akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman” Konflik 3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi kita bagaimana menilai kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi, ia mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.

Posted Image

Suharto mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi Sudirman dan Tan Malaka – soal ini secara jelas diungkapkan banyak sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa revolusi bersenjata 1945-1949. Suharto tak mau melakukan tindakan sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti siapa yang memegang kendali keadaan, inilah yang kemudian menjadikan Suharto selalu memenangkan sejarah, dan ucapan paling fenomenalnya “PKI berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965 menunjukkan bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan pelaku sejarah lainnya.

Hari ini kelahiran Suharto, 8 Juni seorang yang amat penting dalam sejarah Indonesia, memang Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia, tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian, seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100% pelaku penting politik saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan kenapa Sudjiwotedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?” kekuatan tanpa rasa minder, seperti ketika Suharto disindir oleh Mayjen S Parman sebelum kejadian 1965, “Suharto itu siapa, pendidikannya apa, arep melu-melu ngurus negoro” yang dicatat dalam Buku Subandrio, juga beberapa catatan sejarah tentang para Jenderal yang berpendidikan tinggi dan mengejek Suharto apalagi ketika Suharto dengan lihai menggantikan posisi Bung Karno sebagai Presiden RI di tahun-tahun awal kekuasaannya, Suharto selalu menerima banjir ejekan atas dirinya yang kurang berpendidikan dan memiliki masa lalu tak jelas

Keadaan itu dijawab Suharto dengan tenang termasuk ketika ia mengadakan konferensi pers saat itu di tahun 1974, ramai sekali perdebatan siapa Bapak Kandung sesungguhnya Suharto, bahkan Mashuri bekas tetangga Suharto dan mantan Menteri Pendidikan memberikan keterangan bahwa Suharto adalah anak keturunan Cina (seperti yang diungkapkan Elson dalam bukunya). Saat itu ramai spekulasi bahwa Suharto adalah anak kandung Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, artinya dia adalah adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ada juga yang menyatakan bahwa ayah kandung Suharto adalah “orang yang memegang payung kuning Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Namun spekulasi-spekulasi itu dijawab tenang oleh Suharto dalam konferensi pers : “Saya adalah anak Petani”.

Ya, Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan, secara politik ia hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri.

Sumber : http://bayituo.blogs…-mitos-dan.html

ini Salatiga, Dari Dokar, Bajingan, sampai Benggol Kècu

Sebagian orang Salatiga ada yang menyebut dokar sebagai andong. Jadi selain kata benda “dokar” dan kata kerja “ndokar”, ada pula “andong” dan “ngandong”. Padahal Salatiga tak punya andong. Yang ada hanya dokar. Roda andong itu empat, seperti di Yogyakarta — bahkan dulu kuda setiap andong itu dua, tapi karena mahal akhirnya hanya dihela seekor kuda.

dokar salatiga

Dokar Salatiga, 2009 |© Flickr/Salatiga (dimuat tanpa izin)

Dokar mayor

Dokar Salatiga berbeda dari bendi maupun sado. Dokar lebih tinggi. Jok belakang saling berhadapan. Waktu kecil saya paling senang duduk di depan di samping Pak Kusir, dengan bonus boleh mencoba bel injak “ting-teng” dan dikentuti kuda.

Selain dokar yang tinggi, di Salatiga ada juga dokar yang rendah sehingga terkesan lebar. Seingat saya orang-orang menyebutnya “dokar mayor” atau “dokar mayer”. Mengapa dinamai demikian saya tidak tahu. Teman saya, namanya Trusto Yuwono, beserta keluarganya (bapaknya bernama Pak Djadjuli), yang dulu tinggal dekat Kridanggo (sebelum pindah ke Ringinawe), termasuk pelanggan dokar mayor ini.

Tentang dokar, saya punya pengalaman tak terlupakan. Ketika masih kelas satu SD saya nggandul dokar. Sang kusir menghardik, “Ayo mudhun, Lé!” Ayo turunlah kau, Nak. Saya ndableg. Sang kusir jengkel. Saya lupa satu hal: jangkauan ujung cambuk itu panjang, dari depan bisa menyabet belakang. Paha saya kena sambar cambuk. Perih. Meninggalkan bilur biru kehitaman. Seminggu lebih tidak hilang.

Becak menemani dokar

becaks alatiga nurul azis

Becak Salatiga 2008 | © Foto: nurulazis.blogspot.com (dimuat tanpa meminta izin)

Baru pada 1970 becak masuk Salatiga. Cuma beberapa, tidak langsung secara massal. Mungkin tak sampai sepuluh. Ada dua hal yang saya kurang tahu. Pertama: dari manakah asal becak itu. Kedua: apakah penariknya, si tukang becak, juga dari luar kota.

Tentang asal, mestinya bisa dilihat pada desain. Spatbor mblenduk, sadel model sepeda, pastilah bukan becak gaya Pantura Barat. Mungkin dari Semarang. Tentang asal muasal penarik becak pertama, bagi saya menarik untuk dikatahui. Jika dia orang lokal, dan belum pernah mengayuh becak, berarti dia melakukan lompatan besar dalam hidupnya. Ini setara ajaibnya dengan pilot Indonesia pertama — bedanya pilot mengenal sekolah dan magang.

Dari manapun asal si becak dan tukang becaknya, ada satu hal yang belum saya ketahui: siapakah juragannya? Menjadi pemilik becak pertama, yang mungkin juga sekaligus penariknya, itu jelas menarik karena dia menjadi agen pembaruan di sebuah kota. Transportasi bukan hanya yang dihela oleh kuda, tetapi juga yang didorong, dengan kayuhan — tapi kenapa disebut “menarik becak” ya?

Masuknya becak ke Salatiga membuat anak-anak tak perlu mencicipi pengalaman di luar kota untuk membuktikan lagu Becak karya Ibu Soed. Kehadiran becak melengkapi pengalaman anak Salatiga terhadap lagu Naik Delman, “Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota…

Kehadiran becak juga membuktikan satu hal: topografi Salatiga yang memiliki tanjakan dan turunan bukan masalah. Bisa diatasi dengan jalan memutar, tapi kalau ketinggiannya keterlaluan, misalnya ke ABC atau Ngebul atau Damatex, ya tidak usah. Penumpang tahu dirilah.

Ojek: sepeda atau sepeda motor?

Saya tak tahu sejak kapan ojek ada. Dulu, tahun70-an, ketika saya masih bocah kata ojek saya kenal dari Kompas. Nama benda yang baru bagi saya. Yaitu sepeda yang mengantar jemput dengan bayaran di Pelabuhan Tanjungpriok dan kawasan Kota, pecinannya Jakarta.

Di kemudian hari ojek memang berupa motor, tapi di Kota masih ada ojek sepeda. Bahkan di sekitar Kota BNI (BNI City Complex), Jalan Sudirman, Jakarta, selama 1996-1998 sempat ada ojek sepeda. Tapi hanya orang bule yang dianggap pantas berojek ke Hotel Shangri-La. Saya? Dianggap sok nyentrik oleh hotel dan teman.

Saya menduga, ojek yang masuk Salatiga sudah berupa sepeda motor. Akhir 80-an sudah ada, biasanya mengantar orang kemalaman atau orang yang baru turun dari bus malam dan butuh segera tiba di rumah. Tapi tahun 70-an, seingat saya, Salatiga belum mengenal ojek. Meskipun begitu beberapa teman dari luar Salatiga, misalnya Asinan, sudah mengenal ojek motor. Mereka naik ojek dari rumah ke jalan raya dengan sepatu sekolah tetap dipakai tapi dibungkus tas kresek agar tak kena lumpur. Begitu buruknya kondisi jalan saat itu.

Gerobak atawa pedati

Dulu, ketika saya masih SD dan tinggal di Sinoman, gerobak Salatiga itu beroda besar. Jari-jari dari kayu, lingkar luar roda berbahan besi. Suaranya bergelodakan, terdengar dari jauh, berbarengan dengan suara klinthingan sapi. Orang bilang roda besi itu merusak aspal.

Gerobak dihela oleh dua sapi. Tak ada jok di dalamnya. Biasanya gerobak dipakai untuk mengangkut jerami, batu bata, dan pupuk kandang. Barang yang terakhir tidak mengundang minat anak-anak untuk menumpang.

Mulai akhr 70-an, gerobak beroda besar semakin jarang. Para juragan dan bajingan (harfiah = kusir gerobak) memilih roda kecil, bekas roda mobil, dengan ban karet. Kebisingan khas itu lenyap, tapi aspal tak mengelupas.

Kuda dan sapi

Untuk pengangkutan batu bata, sampai awal 70-an baik di Sinoman maupun Mangunsari, saya masih sering melihat itu dilakukan oleh kuda beban, dengan keranjang bambu tebal di kanan-kiri.  Kadang kuda itu tak sendirian tetapi berombongan dalam konvoi ala kafilah. Sering saya melamun, kenapa mereka tak menggunakan keledai atau bagal (hasil persilangan kuda dan keledai)? Rupanya saya terpegaruh oleh buku-buku cerita dari luar.

Tentang sapi? Sampai 1971 saya masih sering melihat rombongan sapi malam hari, jumlahnya bisa mencapai dua puluhan per kelompok. Dalams atu rombongan bisa terdiri atas empat kelompok bahkan lebih. Maklumlah saat itu jalan raya masih sepi, belum banyak mobil. Hanya truk dan bus malam membelah sepi malam.

Sapi-sapi itu menempuh perjalanan untuk dibawa ke pasar luar kota.  Koboinya membawa oncor. Setiap kali mereka melintas, tak sedikit keluarga yang rumahnya dilewati menjadikan mereka sebagai tontonan.

Untuk rombongan yang melewati Mangunsari (Jalan Osa Maliki), katanya sih sapi-sapi dari Tengaran bahkan Ampel. Untuk rombongan yang melewati Jalan Imam Bonjol, saya tak tahu asalnya, tapi dikabarkan akan dibawa ke Ambarawa. Padahal bisa saja sebelumnya mereka melewati Jalan Osa Maliki. :)

Maling dan perampok ternak

Sampai pertengahan 80-an saya masih mendengar kabar burung tentang kawanan pencuri bahkan perampok sapi. Benar tidaknya saya tidak tahu karena secara sekilas saya tak mendapatkan beritanya dari Suara Merdeka. Selalu ada bumbu mitos atau legenda dalam obrolan tentang kawanan maling ternak.

Seseorang mengatakan, di kacamatan anu itu yang ikut terlibat adalah tokoh masyarakat, misalnya guru sekolah. Dari satu dua mulut saya juga mendapatkan info tempat pemotongan (penyembelihan) gelap, tak berizin, untuk sapi ilegal. Saya tak mengeceknya karena belum bisa dan uang saku saya tidak cukup.

Tentang gegedug atau benggol maling ternak yang konon sakti, majalah Tempo pertengahan 80-an pernah menurunkan berita kriminal menarik. Dalam sebuah penyergapan di sebuah tempat sepi di lereng Gunung Merbabu, polisi dari Polres Salatiga sudah tahu rahasia kelemahan sang gegedug: di telapak kakinya. Titik itulah yang menjadi sasaran tembak. Raja maling bisa diringkus.

Tapi cerita itu hanya mengandalkan ingatan. Saya belum mengeceknya ke arsip PDAT.

Masih tentang kawanan maling ternak, pada pertengahan 1982, saat siskamling untuk pemilu (dulu wajib), saya berbaur dengan bapak-bapak dari kampung belakang rumah. Dari mereka saya mendapatkan cerita yang tak diungkapkan dengan kekaguman melainkan kekesalan, tentang laskar MMC (Merbabu-Merapi Complex, tahun 50-an).

Mereka itu, kata para orang tua, adalah perampok atau kècu yang merampasi sapi  penduduk pada malam hari, lantas meneruskan perjalanan dengan gagah. Bahkan kata seorang bapak, ada benggol MMC yang melenggang sambil menyuling. Romantis betul, dan semoga tidak tersandung.

 

sumber : http://inisalatiga.wordpress.com

Misteri di Balik Gunung Merapi

Masih ingat yang dikatakan Ponimin Solihan tentang Gunung Merapi? Ya, dia mengaku Merapi yang setiap hari kita liat sesungguhnya adalah sebuah keraton, istana tempat para mahluk gaib bersemayam.

Tentu saja itu tidak akan tampak bila dipandang dengan mata biasa. Ponimin, yang kini banyak dibicarakan akan menggantikan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi, melihatnya dengan mata batin.

Tidak banyak orang yang bisa melihat seperti yang dilihat Ponimin. Namun, masyarakat Jawa tradisional percaya mengenai hal itu. Ponimin, yang mengaku mendapat bisikan dari penghuni Merapi bahwa gunung itu akan meletus, percaya bahwa Merapi merupakan keraton, tempat pendiri Kerajaan Mataram, Panembahan Senopati berada.

Konon dikisahkan, Senopati dan penghuni Merapi berhubungan sangat erat. Senopati berhasil mengalahkan kerajaan Pajang karena bersekutu dengan penghuni Merapi. Saat berperang, merapi ikut menyerang tentara pajang dengan muntahan vulakniknya.

Penduduk di Jawa Tengah, khususnya di sekitar Merapi yakin bahwa Gunung Merapi dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang biasa disebut bangsa alus. Karena itu, banyak tempat di Merapi terlarang atau pantang bagi manusia untuk menjamahnya, apalagi merusaknya.

Gunung itu terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Keraton yang dimaksud letaknya tepat di bagian kawah. Keraton itu dipimpin oleh kakak beradik, bernama Empu Rama dan Empu Permadi sebagai kepala negara. Namun, tugas mengatur negara setiap hari dilimpahkan kepada Kyai Sapu Jagad. Dialah yang mengatur keadaan Gunung Merapi.

Jika pernah mendaki Merapi, tentu akrab dengan nama “Pasar Bubrah”. Dengan mata biasa, tempat itu tidak lain hanya sebuah hamparan pasir dengan bebatuan besar. Namun, dengan mata batin, Pasar Bubrah tampak sebagai pusat perbelanjaan mahluk halus, tidak beda dengan pasar di dunia manusia. Jika bekunjung ke sana dan mendapati batu-batuan besar yang berserakan, itulah bangku serta meja tempat penjual menjajakan dagangan.

Jika itu sebuah keraton dan pusat peradaban mahluk halus, lalu di mana pintu masuknya? Warga di Merapi percaya bahwa gerbang itu terletak di sebuah tempat yang diberi nama “Gunung Watoh”. Di sinilah Nyai Gadung Melati bersemayam. Ia adalah penguasa Merapi yang bertugas menjaga lingkungan.

Sama seperti di alam manusia, alam gaib di Merapi juga memiliki padang rumput untuk menggembalakan ternak. Tempat itu bernama “Hutan Patuk Alap-alap”. Di sanalah ternak milik keraton digembalakan. Penggembalanya adalah Kartadimeja, seorang tokoh halus yang baik hati kepada penduduk Merapi. Dia selalu memberitahu penduduk jika Merapi akan meletus. Selain menggembala, ia juga merupakan komandan pasukan mahluk halus.

Bagi kebanyakan kalangan, hal itu tentu sulit diterima akal sehat. Dalam pandangan orang kebanyakan, Merapi tidak ada bedanya dengan gunung berapi lainnya, yang bisa meletus dan mengeluarkan lahar.

Percaya atau tidak, yang pasti Keraton Yogyakarta rutin melakukan upacara labuhan di sana. Yakni rangkaian upacara yang dilaksanakan Keraton dalam rangka peringatan jumenengan Ndalem Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diselenggarakan setiap tanggal 30 bulan Rejeb penanggalan Jawa.

Tujuannya, menghormati penguasa Merapi agar ikut menjaga keselamatan, keamanan dan ketentraman wilayah Yogyakarta. Dalam upacara ini, aneka sesajian diberikan untuk menghormati penguasa Merapi. Upacara ini dipimpin oleh juru kunci Gunung Merapi atas nama Keraton, misalnya oleh Mbah Maridjan.

Dari sudut pandang lain, upacara itu diterjemahkan sebagai sebuah upaya untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Harmonis, agar tidak ada yang saling disakiti.

MAKNA HURUF JAWA

HA NA CA RA KA
Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candara-pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi-satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam
Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah /kodrat Illahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin – mantap dalam menyembah Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niatan

Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi -manusia

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Filsafat ha-na-ca-ka-ra yang diungkapan Paku Buwana IX dikutip oleh Yasadipura sebagai bahan sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang dibawakan Yasadipura adalah ” Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta Haksara Jawi kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton Surakarta Hadiningrat “. Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura ( 1992 : 9 – 10 ) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran ( filsafat hidup ) berdasarkan aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi, sebagai berikut.

Nora kurang wulang wuruk tak kurang piwulang dan ajaran
Tumrape wong tanah Jawi bagi orang tanah Jawa
Laku-lakune ngagesang perilaku dalam kehidupan
Lamun gelem anglakoni jika mau menjalaninya
Tegese aksara Jawa maknanya aksara Jawa
Iku guru kang sejati itu guru yang sejati

Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa itu sebagai berikut :

Ha-Na-Ca-Ra-Ka
berarti ada ” utusan ”
yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia.
Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )
Da-Ta-Sa-Wa-La
berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ”
tidak boleh sawala ” mengelak ”
manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya
berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ”
atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan.
Jaya itu ” menang, unggul ”
sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga
berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

 

Sejarah KRL ( Commuter line )

Wacana elektrifikasi jalur Kereta Api (KA) di Indonesia telah didiskusikan oleh para pakar kereta api dari perusahaankereta api milik pemerintah Hindia Belanda yaitu: Staats Spoorwegen (SS) sejak tahun 1917 yang menunjukkan bahwa elektrifikasi jalur KA secara ekonomi akan menguntungkan. Elektrifikasi jalur KA pertama dilakukan pada jalur KA rute Tanjung Priuk – Meester Cornelis (Jatinegara) dimulai pada tahun 1923 dan selesai pada tanggal 24 Desember 1924. Untuk melayani jalur kereta listrik ini, pemerintah Hindia Belanda membeli beberapa jenis lokomotif listrik untuk menarik rangkaian kereta api diantaranya adalah Lokomotif Listrik seri 3000 buatan pabrik SLM (Swiss Locomotive & Machine works) –BBC (Brown Baverie Cie), Lokomotif Listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft) Jerman. Lokomotif Listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor Belanda serta KRL (Kereta Rel Listrik) buatan pabrik Westinghouse dan KRL buatan pabrik General Electric. Bagian dari perusahaan Staats Spoorwegen yang menangani sarana, pasarana dan operasional kereta listrik ini adalah Electrische Staats Spoorwegen (ESS).

Peresmian elektrifikasi jalur KA bersamaan dengan hari ulang tahun ke 50 Staats Spoorwegen, sekaligus juga peresmian stasiun Tanjung Priuk yang baru yaitu pada 6 April 1925. Elektrifikasi jalur KA yang mengelilingi kota Batavia (Jakarta) selesai pada 1 Mei 1927. Elektrifikasi tahap selanjutnya dilakukan pada jalur KA rute Batavia (Jakarta Kota) – Buitenzorg (Bogor) dan mulai dioperasionalkan pada tahun 1930.

Jalur kereta listrik di Batavia ini menandai dibukanya sistem angkutan umum massal yang ramah lingkungan, yang merupakan salah satu sistem transportasi paling maju di Asia pada zamannya. Di masa itu, kereta listrik telah menjadi andalan para penglaju (komuter) untuk bepergian, terutama bagi para penglaju yang bertempat tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta.

Setelah Indonesia merdeka, lokomotif-lokomotif listrik ini masih setia melayani para pengguna angkutan kereta api di daerah Jakarta – Bogor. Pemerintah Indonesia sejak kemerdekaan tidak pernah membeli lokomotif listrik untuk mengganti atau menambah jumlah lokomotif listrik yang beroperasi. Namun pada akhirnya, dengan usia yang telah mencapai setengah abad, lokomotif-lokomotif ini dipandang tidak lagi memadai dan mulai digantikan dengan rangkaian Kereta Rel Listrik baru buatan Jepang sejak tahun 1976.

Seiring perkembangan zaman, Commuter (KRL Jabotabek) yang beroperasi sekarang sudah memiliki berbagai fasilitas dan kelas, mulai dari tempat duduk yang ”empuk” hingga Air Conditioner (AC) yang menyejukkan. Saat ini ada tiga kategori atau kelas pelayanan Commuter, antara lain Commuter ekonomi non-AC, Commuter Ekonomi AC dan Commuter Ekspres AC.

Sistem pengoperasian Commuter terpadu di wilayah Jabotabek dimulai pada tahun 2000, saat itu pemerintah Indonesia menerima hibah 72 unit KRL. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 unit gerbong bisa langsung digunakan dan dioperasikan sebagai rangkaian-rangkaian KRL Pakuan yang melayani rute Jakarta – Bogor, PP.

Saat ini Commuter melayani lintas Jakarta – Bogor, PP; Jakarta – Tanahabang, PP; Jakarta – Bekasi, PP; Jakarta – Tangerang, PP; dan Jakarta – Serpong, PP.

Selain itu, ada juga Commuter lingkar Jakarta dengan nama KRL Ciliwung, dengan rute Manggarai – Tanahabang – Angke – Kemayoran – Pasarsenen – Jatinegara kembali ke Manggarai dan arah sebaliknya.

Bagi pekerja di wilayah Jabotabek yang terpaksa pulang malam hari, kini telah dioperasikan Commuter ekonomi AC malam hari untuk lintas Jakarta – Bogor, Jakarta – Depok, Jakarta – Bekasi, Manggarai – Tangerang dan Manggarai – Serpong.

Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir ini, setiap Sabtu dan Minggu telah tersedia pula Commuter Wisata yang melayani jalur Stasiun Bogor – Stasiun Ancol dan Stasiun Serpong – Stasiun Ancol, Stasiun Tangerang – Stasiun Ancol, Stasiun Bekasi – Stasiun Ancol. Commuter Wisata tersebut melayani penumpang pulang-pergi, pada pagi dan sore hari. Harga tiket sudah termasuk tiket masuk ke Taman Impian Jaya Ancol.

KRL yang digunakan dalam melayani penumpang Jabotabek adalah KRL AC eks Jepang namun masih dalam kondisi baik dan layak digunakan. Khusus untuk KRL Ciliwung, kita menggunakan kereta buatan PT INKA Madiun dengan nama KRL I (atau disebut KRL Indonesia).

Semakin tingginya animo masyarakat akan pelayanan Commuter, membuat PT Kereta Api Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek harus menambah armada rangkaian yang dimilikinya. Hal ini bisa dilihat dari semakin padatnya KRL terutama pada jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari.

Belum lama ini, tepatnya 1 Agustus 2008, PT Kereta Api (Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek) kembali mendatangkan KRL dari Jepang sebanyak 1 set KRL atau 8 gerbong. Rencananya, KRL tersebut akan digunakan untuk menambah daya angkut pada lintas Jakarta – Bogor dan Jakarta – Bekasi. Namun sebelum dioperasikan, rangkaian yang baru datang ini harus memasuki beberapa tahap pengecekan termasuk proses pemeriksaan dan uji sertifikasi dari Departemen Perhubungan terlebih dahulu. Kabar menggembirakan lainnya, pada bulan September ini akan datang lagi KRL berikutnya sebanyak 8 gerbong.

Latar Belakang Pendirian PT KAI COMMUTER JABODETABEK

PT KAI Commuter Jabodetabek adalah salah satu anak perusahaan di lingkungan PT KERETA API (Persero) yang dibentuk sesuai dengan Inpres No. 5 tahun 2008 dan Surat Menneg BUMN No. S-653/MBU/2008 tanggal 12 Agustus 2008.

Pembentukan anak perusahaan ini berawal dari keinginan para stakeholdernya untuk lebih fokus dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dan menjadi bagian dari solusi permasalahan transportasi perkotaan yang semakin kompleks.

PT KAI Commuter Jabodetabek ini akhirnya resmi menjadi anak perusahaan PT KERETA API (Persero) sejak tanggal 15 September 2008 yaitu sesuai dengan Akte Pendirian No. 415 Notaris Tn. Ilmiawan Dekrit, S.H.

Kehadiran PT KAI Commuter Jabodetabek dalam industri jasa angkutan KA Commuter bukanlah kehadiran yang tiba-tiba, tetapi merupakan proses pemikiran dan persiapan yang cukup panjang. Di mulai dengan pembentukan Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek oleh induknya PT Kereta Api (Persero), yang memisahkan dirinya dari saudara tuanya PT KERETA API (Persero) Daop 1 Jakarta. Setelah pemisahan ini, pelayanan KRL di wilayah Jabotabek berada di bawah PT KERETA API (Persero) Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek dan pelayanan KA jarak jauh yang beroperasi di wilayah Jabodetabek berada di bawah PT KERETA API (Persero) Daop 1 Jakarta.

Dan akhirnya PT KERETA API (Persero) Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek berubah menjadi sebuah perseroan terbatas, PT KAI Commuter Jabodetabek. Setelah menjadi perseroan terbatas perusahaan ini mendapatkan izin usaha No. KP 51 Tahun 2009 dan izin operasi penyelenggara sarana perkeretaapian No. KP 53 Tahun 2009 yang semuanya dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia.

Tugas pokok perusahaan yang baru ini adalah menyelenggarakan pengusahaan pelayanan jasa angkutan kereta api komuter (untuk selanjutnya disebut ”Commuter” saja) dengan menggunakan sarana Kereta Rel Listrik di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang (Serpong) dan Bekasi (Jabotabek) serta pengusahaan di bidang usaha non angkutan penumpang.

sumber http://www.krl.co.id/index.php/Sekilas-KRL.html